Namun ternyata masih memiliki banyak permasalahan di bidang pendidikan khususnya bagi anak-anak dari orang tua yang pendatang. Selain itu kata dia, sekolah TK Deen Assalam Ruteng dibuka karena jumlah sekolah madrasah di Ruteng sangat terbatas.
Kemudian, berbagai himpitan kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor utama banyaknya anak putus sekolah.
Apalagi, setelah dia merefleksikan dirinya jika dia juga merupakan anak yang lahir dari keluarga yang tak mampu. Sehingga fenomena inilah yang membuat hati Briypka Syamsuddin menggugah untuk prihatin.
“Motivasi awal pembangunan sekolah ini dulu setelah saya merefleksi bahwa saya ini lahir dari keluarga tidak berada bukan dari keluarga berada tetapi dari keluarga tidak berada ini saya berinisiatif bahwa anak-anak kami harus bisa sekolah seperti anak-anak lain,” ujar Bripka Syamsuddin.
Dari hal itu, guna membiayai sekolah tersebut Bripka Syamsuddin bahkan rela mengajukan kredit berkali-kali di Bank. Bahkan saat ini ia pun hanya menerima gaji bersih 200.000 dari profesinya sebagai polisi. Sebab separuhnya diberikan untuk kebutuhan sekolah termasuk gaji guru.



Tinggalkan Balasan