“Saya berharap setelah mendapatkan pemahaman tentang stunting, masyarakat dapat memiliki perubahan pola hidup menjadi lebih sehat, dan mengutamakan pemenuhan gizi rumah tangga bagi ibu hamil, menyusui dan anak-anak pada 1000 hari kehidupan awal. Sehingga dengan begitu, risiko stunting dapat dieleminir sejak dini dan berdampak pada terputusnya mata rantai stunting,” jelasnya.

Harapan yang sama turut diungkapkan oleh Kepala Perwakilan BKKBN NTT dr Elsa Pongluturan, M.Kes yang hadir mendampingi Ratu Wua saat mengedukasi masyarakat Tanarara.

Ia menyampaikan bahwa, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.

“Stunting dapat menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, serta menurunkan kualitas hidup,” ungkapnya.

Karena itu, masyarakat diminta agar dapat mendukung upaya pemerinta saat ini untuk melawan stunting, dan menurunkan angka stunting di NTT yang dapat dimulai dari setiap rumah tangga masyarakat. (*)