Kemudian, berbagai himpitan kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor utama banyaknya anak putus sekolah.

Apalagi, setelah dia merefleksikan dirinya jika dia juga merupakan anak yang lahir dari keluarga yang tak mampu. Sehingga fenomena inilah yang membuat hati Briypka Syamsuddin menggugah untuk prihatin.

“Motivasi awal pembangunan sekolah ini dulu setelah saya merefleksi bahwa saya ini lahir dari keluarga tidak berada bukan dari keluarga berada tetapi dari keluarga tidak berada ini saya berinisiatif bahwa anak-anak kami harus bisa sekolah seperti anak-anak lain,” ujar Bripka Syamsuddin.

Dari hal itu, guna membiayai sekolah tersebut Bripka Syamsuddin bahkan rela mengajukan kredit berkali-kali di Bank. Bahkan saat ini ia pun hanya menerima gaji bersih 200.000 dari profesinya sebagai polisi. Sebab separuhnya diberikan untuk kebutuhan sekolah termasuk gaji guru.

“Untuk biaya ya saya harus kredit di Bank berkali-kali bahkan terakhir itu nyaris jual rumah,” ungkap Bripka Syamsuddin.

Meski merasa sulit dalam pembiayaan, Bripka Syamsuddin bersama istri mengaku bahagia setelah melihat anak-anak yang tamat bisa mengikuti ke jenjang pendidikan SD dengan memiliki kemampuan bisa membaca dan menulis.