“Kalau kita lihat di Kota Kupang, jumlahnya 973 bayi. Itu yang intensif kita tangani sehingga tidak jadi Stunting,” ungkapnya.
Dijelaskan drg. Retnowati, penanganan sensitif terhadap stunting ini dilakukan oleh instansi lain, termasuk penyediaan air bersih, lingkungan yang bersih, pola asuh anak, dan pola makan yang beragam melalui ketersediaan pangan.
“Intervensi ini diberikan kepada keluarga PKH, yang juga untuk ketahanan pangan mereka di dalam rumah tangga,” ucapnya.
Saat ini, lanjutnya, fokus Dinas Kesehatan adalah bagaimana, sehingga anak-anak yang gizi buruk atau gizi kurang diberikan PMT agar tidak jatuh ke gizi yang lebih buruk lagi.
“Jadi Stunting ini kompleks. Tidak bisa Dinas Kesehatan saja. Ada 9 tatanan itu yang harus dibereskan,” tegasnya.
Dikatakan drg. Retnowati, Dinas Kesehatan hanya menolong dampak dari stunting, gizi buruk, dan gizi kurang, dalam hal penanganannya.
“Masih 4.543 anak yang masih menderita stunting. Kemudian kasus gizi buruk dan gizi kurang itu 3.075. Kemudian BBLR 5.494. BBLR ini berpotensi menjadi stunting,” pungkasnya. (*)





Tinggalkan Balasan