“Di jalur 40 ini, di bulan Maret 2023 sudah sempat kita buka dan sekarang kita lanjutkan lagi,” jelas Azhari.
Dia menampik anggapan bahwa jalan dikerjakan asal jadi dengan ketebalan aspal hanya 3 mm. Karena yang dikerjakan adalah patching dengan ketebalan aspal sekitar 5 cm. “Kalau aspalnya tipis 3 mm, pasti lengket di roda saat pemadatan aspal jalan, dan tidak bisa dikerjakan jalannya,” tegasnya.
Azhari menambahkan, ada beberapa ruas jalan dari paket senilai Rp9 Miliar tersebut dikerjakan menggunakan metode overlay.
“Semua bagian yang rusak-rusak kita kerjakan tahun ini. Yang terberat di daerah Soe yang ada lonsor, itu yang harus kita kerjakan,” imbuhnya.
Hal ini sesuai dengan arahan Kepala BPJN NTT Agustinus Junianto, agar jalan Trans Timor tidak boleh putus. “Kita berharap pekerjaannya harus bagus, selesai tepat waktu, dan sesuai spesifikasi,” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan