“Jaman sekarang, terkhususnya di nusa tenggar timur sudah mengalami penurunan keterlibatan perempuan dalam dunia politik, yang artinya adalah bahwa untuk saat ini cukup sulit mencari sosok perempuan potensial dalam rana publik untuk berperang dalam rana kehidupan politik. Hal ini dapat kita lihat dari rendahnya angka keterwakilan perempuan di parlemen yang sedikit banyaknya lebih di dominasi oleh laki-laki sehingga berpengaruh terhadap prihal kesetaraan gender dan berbagai macam problem yang dihadapi oleh perempuan. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan partisipasi perempuan supaya segala macam pengambilan keputusan politik itu bisa mejadi lebih akomodatif dan juga substansial,” jelas Emi Nomleni.
Yohana Fransiska Medho dalam pernyataan penutupnya sebagai moderator dalam kegiatan seminar Hari Kartini ini mengatakan, sejatinya hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah mitra.
“Maka sudah sepatutnya kita harus saling mendukung, menghormati dan menghargai berbagai macam persamaan dan perbedaan yang ada antara laki-laki dan perempuan.ia berpesan bahwa sebagai seorang perempuan dengan menanam semangat Kartini dalam diri harus terus maju dan berjuang karna sekalipun semua sudah punya kodradnya masing-masing. Namun tak ada yang bisa mmerubah diri kita selain kita sendiri. Terus survive dan jadilah Kartini muda untuk NTT,” tandasnya. (*/KN)







Tinggalkan Balasan