“Jadi ada demonstrasi cara penangkapan Paus oleh 17 Peledang, lomba dayung, kriya atau kerajinan tangan, kuliner, tarian, lie knatap, nyanyian-nyanyian dan sejumlah kegiatan lainnya. Selain itu ada juga pasar barter yang berlangsung di Lapangan Waitobi. Kegiatan ini melibatkan ratusan masyarakat Desa Lamalera,” ungkap Noel.
Ia menyampaikan, kegiatan Festival Leva Alep tentunya memiliki nilai tambah. Sehingga semua masyarakat Lamalera yang terlibat dalam kegiatan ini akan mendapat dampak secara ekonomis.
“Ini soal pendidikan dan kebudayaan, bukan soal pariwisata. Ke depan, budaya Leva-Penéte juga bisa dimasukan dalam mata pelajaran di SD untuk dipelajari oleh anak cucu. Sehingga budaya ini jangan hilang,” tambahnya.
Noel menambahkan, Penjabat Bupati Lembata Marsianus Jawa juga akan diundang secara khusus untuk membuka kegiatan Festival “Leva Alep”.
“Kami bersama pemerintah Desa Lamalera A dan B akan bertemu langsung dengan Bapak Penjabat Bupati Lembata untuk mengundang beliau secara khusus. Juga para pimpinan OPD dan DPRD Kabupaten Lembata akan diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut,” tutupnya.
Pastor Paroki Lamalera Romo Noldy seperti dilansir Mediantt.com mendukung kegiatan Festival Leva Alep.
Menurutnya, gereja mendukung festival tersebut karena untuk kepentingan Levo Lamalera. “Sebagai Gembala umat, kami mendukung festival dijalankan untuk kepentingan Levo Lamalera. Dan siap membantu melindungi festival ini,” kata Romo Noldy.
Sementara Kepala Desa Lamalera A, Yakobus Gelau mengatakan, pemerintah kedua desa setuju dengan festival ini karena merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud dan Ristek).
“Jujur bahwa dari awal kedua desa setuju dengan festival ini karena menjadi program dari Kementerian. Dari sosialisasi pertama ada hal-hal yang sempat bersitegang, mari kita bergandeng tangan. Tapi setelah pertemuan di Levo Nuba, komitmen semua sama; menyetujui dan mendukung festival ini,” kata Yakobus Gelau. (*)







Tinggalkan Balasan