Ia menjelaskan, Festival “Leva Alep” adalah program revitalisasi budaya Leva-Penéte yang selama ini digeluti oleh masyarakat Lamalera. Leva adalah aktivitas masyarakat Lamalera mencari ikan di laut. Kegiatan Leva umumnya hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Sedangkan Penéte adalah aktivitas masyarakat Lamalera memasarkan hasil tangkapan berupa ikan kepada masyarakat yang berada di wilayah pegunungan. Uniknya, masyarakat Lamalera dan masyarakat yang berada di wilayah pegunungan masih menganut sistem barter, sehingga terjadi pertukaran barang. Ikan dari Lamalera bisa ditukar dengan ubi, jagung, dan pisang dari wilayah pegunungan. Penéte umumnya dilakukan oleh kaum perempuan.
Sehingga tujuan Festival “Leva Alep” adalah agar nilai-nilai Leva-Penéte bisa diwariskan kepada anak-anak jaman sekarang, yang lebih fokus ke gadget, dari pada mempelajari nilai-nilai dan budaya Leva-Peneta yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh leluhur levo Lamalera.
“Jadi ada demonstrasi cara penangkapan Paus oleh 17 Peledang, lomba dayung, kriya atau kerajinan tangan, kuliner, tarian, lie knatap, nyanyian-nyanyian dan sejumlah kegiatan lainnya. Selain itu ada juga pasar barter yang berlangsung di Lapangan Waitobi. Kegiatan ini melibatkan ratusan masyarakat Desa Lamalera,” ungkap Noel.



Tinggalkan Balasan