“Barang ini saya anyam sendiri. Tetapi ada yang saya beli dari orang dan dijual kembali. Kalau beli di kampung, harganya Rp45 ribu – Rp50 ribu. Nanti saya jual kembali dengan harga Rp25 ribu,” jelasnya.
Sudah menjadi rutinitas. Ketika pagi tiba, Lius sudah mulai beranjak meninggalkan huniannya, yang berlokasi di Liliba, dan berjalan menyusuri sudut kota dengan memikul dagangannya, hingga matahari pamit di bibir langit.
“Saya jual jalan kaki saja. Pagi-pagi jam 7 sudah mulai jalan dari rumah. Kalau naik motor atau bemo, nanti orang mau beli setengah mati. Jadi saya jalan kaki saja,” terangnya.
Kadang, kata Lius, dagannya ia jual atau mengover ke pihak kedua, jika mereka ingin memborong, meski dengan harga yang terbilang cukup murah dari pengeluarannya.
“Tetapi saya anggap cukup dan membantu untuk melariskan dagangan saya. Dari hasil jualan niru dan keranjang sangat mencukupi kebutuhan sehari-hari saya,” pungkasnya. (Ratna).





Tinggalkan Balasan