Selain itu, kata dia, mindset para pemimpin di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga perlu diubah, sehingga bisa dibuat dalam sebuah desain pembangunan yang tepat, agar semuanya bisa bertumbuh hebat.

“Saya mau ke Jakarta dan merubah cara berpikir mereka. Ini tidak main-main. Saya sudah pikir caranya. Kita akan hitung potensi dan sumber dayanya dengan anggaran yang diberikan pertahun. Namun jika pemimpinnya tidak bergerak, kita evaluasi dan istirahatkan dia,” tegasnya.

Ia mengakui banyak potensi dan sumber daya di Provinsi NTT yang tidak diurus secara baik, dan itu merupakan akumulasi dari semua Kabupaten/Kota yang yang tersebar di Provinsi NTT.

“Jadi ketika dipanggil ke Jakarta, yang diumumkan itu provinsi miskin. Bukan kabupaten. Dan para bupati ini kan tidak ada disana untuk mendengar,” tandasnya. (*)