“Sebab Sulamu terkenal dengan nelayan dan perikanannya, tentu hasil tangkapan seperti ikan pasti memerlukan es,” ungkapnya.
Sementara itu, Country Director Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dalam sambutannya menyampaikan, GIZ sudah sediakan project di Indonesia berhubungan dengan energi terbarukan.
Menurutnya, GIZ dekat dengan Indonesia dari berbagai bidang. Indonesia adalah salah satu negara penghasil ikan terbesar di dunia. Sayangnya banyak ikan terbuang dari daerah terpencil.
Teknologi yang mengandalkan tenaga surya dan sistem pendinginan yang ramah lingkungan ini, diyakini dapat menjawab kebutuhan nelayan dengan kapasitas produksi es balok hingga 1 ton/hari.
Perwakilan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Direktur Aneka EBT, Andriah Feby Misna mengucapkan terima kasih atas kerjasama pemerintah Jerman dan Indonesia khususnya NTT dalam pengembangan teknologi pembuat es bertenaga surya.
“Terima kasih untuk segenap pihak dalam mendukung pengembangan teknologi ini dalam mendorong sektor perikanan. Kunjungan pertama saya kali ini di NTT, khususnya di Kabupaten Kupang, saya melihat banyak potensi alam yang bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Jangan ada lagi ikan-ikan yang terbuang. Dijaga kualitasnya sehingga dapat juga diekspor,” ujarnya.





Tinggalkan Balasan