“Alasan dasar bagi saya bahwa ini merupakan tanah (wilayah) leluhur. Artinya leluhur kami lahir, tumbuh kecil hingga besar bahkan kubur di sini tidak mungkin kami lepas saja begitu, kami tidak mau berikan. Jadi untuk kami punya saya akan tetap menolak apalagi di lokasi ini jalan masuknya lewat kami punya wilayah kami tolak,” tegasnya.

Di sisi lain Simon juga mengulas dasar ia menolak proyek itu lantaran telah mempelajari dari berbagi banyak hal terkait kasus serupa yang berkaitan dengan PLTUP.

“Setelah saya mengikuti belakangan ini ternyata di Mbay juga mereka melakukan pembebasan itu dan sekarang setelah melakukan pemboran itu tidak jadi dan mereka lepas, kemudian ada peluang gas beracun muncul, begitu juga di Sumatera setelah mereka pemboran mereka lepas tidak ada hasilnya,” ulasnya

Dia khawatir gas beracun itu akan terjadi di wilayahnya, maka semua orang di pasti jadi korban nantinya.

“Sedangkan Ulumbu yang sekarang ini dampaknya hampir 75%. Hasil bumi mereka tidak ada sama sekali, kemudian seng
mereka cepat hancur dampaknya itu,” ujarnya.

Berbeda dengan Hendrikus Hadu (60), warga Ncamar Desa Lungar, yang dalam pemberitaan sebelumnya mengaku akan memberikan tanah mereka ke perusahan jika dibeli dengan harga sesuai.

Simon justru tidak akan memberikan sepenuhnya dalam artian menolak sama sekali atas lahan yang dimilikinya.

“Ganti rugi berapapun kami tidak akan izin, kita konsisten untuk tetap tolak,” tegasnya.

Soal pilihan yang disampaikan oleh pemerintah, pihaknya mengaku jika PAD dari Ulumbu itu tidak jelas. Hal itu ia ketahui usai menjabatnya sebagai anggota DPRD beberapa tahun silam.

Bahkan, Simon menyayangkan sikap Pemda yang selama ini sebagai garda terdepan dalam proyek ini. Kata dia, Pemda seharusnya menyelamatkan masyarakat bukan mempengaruhi.

“Saya mengimbau kepada masyarakat jangan memudah memberikan lahannya karena ini tanah leluhur. Jadi hati-hati jangan sampai leluhur yang mengadili orang yang memberikan lahan. Artinya ketika tanah itu diberikan sampai ratusan turunan itu tidak akan kembali ke kita, kita harus pikir dengan anak cucu kita,” tutupnya. (*)