Ia menjelaskan, setelah mendapatkan informasi tersebut, pihaknya langsung menuju kebun guna mengecek kebenaran informasi itu. Sayangnya petugas pengeboran yang dihadang warga sudah tidak ada di tempat.
“Di lahan saya terbukti ada bekas pengeboran, itu akhirnya saya marah. Saya bilang kalau saya ketemu di sini orangnya saya akan marah besar di sini bahkan saya usir dari sini,” katanya.
Menurutnya, selama ini tidak pernah ada koordinasi yang baik dari pihak PLN maupun pemerintah.
“Mereka tidak pernah koordinasi, juga tidak pernah menerima, surat baik dari saya maupun keluarga. Ternyata proses yang mereka jalani sudah lama, tanpa melibatkan kami, di situ saya kaget,” ungkapnya dengan nada kesal.
Simon mengaku akan tetap menolak rencana perluasan PLTP Ulumbu yang mencakup lahannya sebagai titik pemboran.
“Alasan dasar bagi saya bahwa ini merupakan tanah (wilayah) leluhur. Artinya leluhur kami lahir, tumbuh kecil hingga besar bahkan kubur di sini tidak mungkin kami lepas saja begitu, kami tidak mau berikan. Jadi untuk kami punya saya akan tetap menolak apalagi di lokasi ini jalan masuknya lewat kami punya wilayah kami tolak,” tegasnya.



Tinggalkan Balasan