Ia juga menambahkan, Pada kunjungan ini juga untuk melihat kondisi langsung di lapangan dengan materi yang sudah di dapat selama pelatihan tentang STBM Inklusif.

“Apakah di rumah ini sudah ada wadah atau tempat penampungan sampah, kemudian di kelurga ini sudah mengenal STBM dimana poin dalam STBM itu salah satunya berbicara tentang sampah rumah tangga,” ungkapnya.

Meski demikian, pihaknya berharap dengan kunjungan ini bisa memberdayakan mereka yang walupun dengan keterbatasan fisik tapi dibantu melalui keluarga agar mereka nanti bisa membedakan jenis sampah.

“Yang penting nannti keluarga telah menyiapkan tempat penampungan sampah sesuai dengan jenisnya. Dimana ada tiga jenis sampah yakni sampah organik, anorganik, dan B3,” ujarnya.

“Sampah organik itu sampah yang mudah terurai, jenisnya misalkan bahan sisa makanan, kulit buah-buahan, daun-daun kering. Sedangkan sampah anorganik misalkan plastik, sisa-sisa bungkus jajan dan sampah B3 itu yakni sampah yang berbahaya dan beracun misalkan botol hasil pestisida. Kemudian tempat penampungan harus disiapkan masing artinya tidak boleh gabung sehingga dari tiga jenis sampah itu disimpan pada masing-masing tempat,” jelas Daniel menambahkan.

Diketahui, usai menjelaskan materi dalam kunjungan keluarga disabilitas itu, tim dari YPII mengajak mereka untuk mempraktekkan dengan membuat tempat sampah dalam tiga jenis, secara serempak mereka juga memungut sampah di lingkungan sekitar hingga sesuai dengan jenisnya, kemudian dimasukan kedalam tiga tong sampah yang telah disediakan. (Yhono Hande).