Pendiri Laboratorium Pertanian Bridge Academy Nagekeo, Kasianus Sebo, menjelaskan, petani adalah profesi bebas dan jarang mendapatkan pertentangan ditengah masyarakat.

Petani bisa merangkap profesi dan tidak dilarang dalam aturan lembaga manapun. Seperti PNS dan para politisi sekalipun tentu bisa merangkap profesi sebagai seorang petani.

Berbanding terbalik, jika PNS merangkap sebagai politisi. Sebab, dua profesi ini tidak bisa dijalankan bersamaan, karena terikat aturan atau dilarang Undang-undang.

“Menjadi petani tidak dipertentangkan oleh seluruh lembaga. Mau advokat, PNS dan jadi petani juga tidak ada yang permasalahkan,” ujar Kasianus.

Ia menjelaskan, Bridge Academy Nagekeo merupakan sebuah lembaga pelatihan yang menyasar kaum milenial, dan didirikan sejak bulam Mei 2020 lalu. 

“Lembaga ini berusaha menjembatani kaum muda milenial dengan kebutuhan pasar hortikultura di Kabupaten Nagekeo dan Flores umumnya,” ungkapnya.

Bridge Academy Nagekeo menggunakan pola alih pengetahuan dan keterampilan yang memadukan sekolah lapangan terpusat dan pengolahan lahan sendiri.

Sehingga Bridge Academy Nagekeo sudah menciptakan multiplier effect atau dampak ganda bagi kelompok binaannya, sekaligus memberikan inspirasi kepada masyarakat sekitar.

Setelah magang, pemerintah akan membantu anak-anak berupa pemberian traktor. Hingga sudah melatih 50-an anak muda, remaja putus sekolah yang dilatih di Bridge Academy Nageko.

“Saya ingin mengembalikan anak-anak muda untuk bertani, karena sekarang banyak anak muda jarang punya niat untuk bertani. Mereka kuliah hanya ingin jadi PNS,” tandasnya. (*)