Sebagai informasi, NTT memilki areal indikatif Perhutanan Sosial dengan luas 496.614,58 Hektar. Namun capaian masih sekitar 11,6% atau seluas seluas 57.864,13 hektare.
Dilihat dari capaiannya, masih termasuk kecil dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, Pokja PS NTT menghadapi tantangan teknis terkait dengan capaian tersebut.
Diantaranya adalah minimnya anggaran untuk penyediaan fasilitas perijininan, kurangnya sumber daya manusia di lapangan untuk membimbing dan memfasilitasi kelompok, serta kurangnya sosialisasi kepada masyarakat sekitar hutan.
“ICRAF Indonesia melalui proyek riset aksi Land4Lives mendukung Pokja PS NTT dalam memetakan permasalahan dan penggalian solusi, untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh KPH dalam pelaksanaan program Perhutanan Sosial yang memberi manfaat pada masyarakat sekitar hutan dan sekaligus untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” kata Koordinator Provinsi Land4Lives Yeni Fredrik Nomeni.
Selain mendukung dengan bantuan teknis, ICRAF bersama DLHK Provinsi akan menyusun sebuah sistem informasi secara bersama-sama yang akan membantu pengelolaan Perhutanan Sosial di NTT.
Land4Lives adalah proyek kerjasama Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada.
Proyek berdurasi 5 tahun (sampai 2026) yang dilaksanakan oleh ICRAF di tiga provinsi; Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur dengan fokus pada perbaikan pengelolaan bentang lahan, ketahanan pangan, kesetaraan gender dan adaptasi/mitigasi dampak perubahan iklim, yang manfaatnya dapat dinikmati kelompok rentan dalam masyarakat termasuk petani kecil, kelompok perempuan dan anak-anak. (*/KN)







Tinggalkan Balasan