Kupang, KN – Dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan terutama oleh orang-orang yang penghidupannya bergantung pada pertanian. Petani dan masyarakat di pedesaan termasuk dalam kelompok yang rentan.
Mereka membutuhkan sistem penyangga serta kapasitas adaptasi supaya mampu mempertahankan sumber penghidupan jikalau terjadi fenomena cuaca luar biasa, yang kini semakin sering melanda akibat perubahan iklim.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), perubahan iklim terutama dirasakan dalam bentuk kekeringan akibat kemarau yang menjadi lebih panjang. Bahkan baru-baru ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa empat kabupaten di NTT terancam mengalami kekeringan setelah tidak turun hujan berturut-turut selama 60 hari. Kekeringan telah berdampak pada ketahanan pangan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
Kondisi tersebut menjadi dasar Bappelitbangda Provinsi NTT mengadakan lokakarya pelatihan (Lokalatih) tentang kajian kerentanan terhadap perubahan iklim serta langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampaknya.





Tinggalkan Balasan