Pada tahun 2022, kata dia, Pemda Matim mengembangkan 400 hektare lahan untuk penanaman sorgum, 1000 hektare untuk kedelai, dan 50 ribu hektare untuk penanaman jagung, yang tersebar di sebelas kecamatan.

“Ini tentu menjadi alternatif juga untuk penanganan stunting dan gizi buruk yang ada di Manggarai Timur, yang posisi per hari ini berada di 11 persen dari 13 persen,” tandasnya.

Direktur Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) Jakarta, Rony Megawanto, mengatakan sorgum merupakan pangan organik, karena tidak menggunakan pupuk kimia, pestisida kimia serta bahan kimia lainnya.

“Sorgum itu pada dasarnya organik. Cuma ada yang di sertifikasi dan ada yang belum. Jadi ditanam, setelah itu akan tumbuh sendiri dan alam yang memelihara. Sama sekali tidak ada bahan kimia. Sehingga ini kategorinya organik,” jelasnya.

“Pangan lokal sangat penting bagi indonesia, karena secara alami, indonesia dianugerahi alam yang memiliki keaneragaman pangan yang sangat tinggi. Jadi sangat disayangkan kalau kita hanya mengkonsumsi nasi,” pungkasnya.