LORONG WAKTU

DI persimpangan jalan kutapaki setiap lorong yang kulewati
Balada rasa yang tak kunjung usai dalam peraduan
Konon aku menengok pada waktu yang kau janjikan
Katamu aku senja yang kau rindukan tapi,
Bukan aku rumah mu untuk menetap
Katamu aku adalah bahagia yang kau rindukan tapi
Aku hanyalah ilusi yang engkau ciptakan
Bolehkah sejenak kita bersama wahai tuan sang penggoda
Mungkinkah waktu kembali merajut asa dalam rasa
Seperti kemarin engaku merangkai setiap untaian puisi-puisimu
Wahai tuan kembalilah dan menetaplah meski sejenak
Biarkan waktu melukis setiap jejak tentang kita walau kau tercipta
Hanya sebagai pilu bagiku.

LENTERA JIWA

Aku terdiam sembari merenung
Teringat kembali saat duduk di gubuk kecil itu cahayamu tetap tinggal
Disudut jiwa yang mana ku sembunyikan duka lara itu
Aku terpukau saat cahyamu menrangi malamku yang hampa
Suasana dingin yang sangat mencekam seperti berpacu dengan ratapanku
Aku mulai gelisah dengan tutu batinku akankah semua duka kulewati
Seperti lentera dimalam yang yang penuh kesunyian ini
Ketika malam membiarkan kelam dan terang berganti rupa
Seperti bayangan hampa
Walaupun terkadag nyalanya tak akan selalu terang
Tetapi selalu terlihat dari kejauhan
Tanpa mengurangi rasa kepedihan yang yang tak pernah berlalu
Hingga secuil kisah kutorehkan bersama cahyamu yang indah
Bercahyalah sejenak dan menemani malamku yang sunyi
Pada malam aku berbisik atas rintihan dan penderitaanku
Biaralah batinku terus bergumam atas setiap kepedihan hati ini
Kupastikan kelam akan sirna walau hanya sebentar dan kepedihan
Tak akan sama seperti kesunyian yang dipelihara dalam lubuk hatiku