Ia menambahkan, kenaikan harga Sembako bukan disengaja oleh pedagang kecil, namun kenaikan sudah terjadi di tingkat perusahaan atau agen.

“Pelanggan juga sepi akibat harga barang-barang naik. Hal inilah yang berdampak pada penghasilan kami yang semakin menurun,” ucap Laurensius.

Adapun kenaikan harga terjadi pada Minyak Goreng jenis Valensi dan Seira yang sebelumnya Rp70.000 menjadi Rp150.000 per lima liter.

Sedangkan Minyak Goreng berlogo Bimoli naik menjadi Rp220.000, Terigu dari harga Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram, Kecap dari Rp25.000 menjadi Rp30.000, Bawang Merah dan Putih dari Rp20.000 menjadi Rp30.0000.

Senada, pedagang Pasar Inpres Ruteng lainnya, Nurlaila mengaku selain Minyak Goreng yang langka dan mahal, harga barang lain juga ikut naik.

“Banyak. Soalnya rata-rata harga semua barang (gula, tepung, biji-bijian, bawang, red) naik. Jadi kena dampaknya juga ke kami. Orang-orang komplain, kirain kami yang kasi naik, ternyata dari sananya sudah naik,” jelas Nurlaila.

“Sekarang sepi sekali dibandingkan sebelumnya. Apalagi masa pandemi ini harga barang naik, pembeli menurun sehingga pastinya penghasilan juga ikut menurun,” tandasnya. (*)