Tobat harus memberi nilai tambah kepada ‘rasa hormat’ bagi sesama; tobat harus berguna bagi orang lain dan tidak saja bagi diri sendiri. Justru ketika tobat (dan keadilan) tidak saja terkurung dalam pemahaman pribadi yang inklusif, maka pada waktu yang sama, kita diarahkan untuk selalu mencari keadilan, mencari sesuatu yang seimbang dalam hidup ini; sesuatu yang benar-benar harmonis; sesuatu yang selalu memberi efek positif bagi para penderita; sesuatu yang mendukung martabat kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Dengan demikian masa tobat selalu menjadi sebuah anugerah, yakni ‘waktu istimewa’ untuk mencari berbagai kemungkinan baru: kemungkinan untuk tidak mati-matian bertahan pada pendapat pribadi; kemungkinan untuk menemukan cara baru yang ada pada orang lain; kemungkinan untuk melihat sisi hidup dari perspektif Tuhan; kemungkinan untuk menata berbagai peristiwa dan kejadian dengan berpedoman pada ajaran Injil suci; kemugkinan untuk membangun kehidupan yang lebih luhur dan berkualitas.