Kedua, berdoa. Dalam masa prapaskah ini saya mengajak kita untuk mengambil banyak waktu untuk berdoa. Janganlah berdoa hanya ketika kita berada dalam kesulitan. Juga janganlah berdoa hanya ketika kita bersyukur atas rahmat Tuhan yang dialami. Tetapi berdoa hendaknya dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan dan keseharian kita, sebab doa adalah hakikat dan kekuatan orang beriman. Dalam doalah kita berjumpa dengan Allah yang selalu menyertai suka duka perjuangan hidup sehari-hari. Melalui doalah kita merasakan apa yang dikidungkan oleh pemazmur: “kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!” (Mzm 34:9). Inti doa adalah berjumpa dengan Allah dan menikmati kelembutan kasih-Nya. Doa berarti merasakan hidup yang sepenuhnya dijamah dan digerakkan oleh kasih: “Omnia in Caritate.” Karena itu kepenuhan doa terjadi, tatkala bukan lagi Tuhan yang mendengarkan aku, tetapi akulah yang mendengarkan Tuhan. Esensi adorasi yang sejati bukanlah aku yang memandang Tuhan, tetapi mengalami bahwa Tuhanlah yang memandangku dengan tatapan lembut cinta-Nya. Yesus mengajak kita untuk berdoa dengan “masuk ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu”(Mat 6:6). Maksudnya bukan masuk dalam ruangan tertutup, tetapi sepenuhnya masuk ke dalam diri, ke dalam hati. Karena di sanalah kita merasakan gita cinta Sang Ilahi.





Tinggalkan Balasan