Ada tiga hal dasariah yang perlu kita lakukan dalam masa praspaskah ini, yaitu: puasa dan pantang, doa serta karya amal kasih. Ketiga-tiganya tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain. Hanya dalam kesatuan erat, praktik-praktik Kristiani tersebut memiliki maknanya yang sejati. Lebih dari itu, yang menjadi roh yang meresapi dan menggerakkan semuanya adalah semangat cinta kasih. Karena itu perkenankan saya untuk menguraikan ketiga hal tersebut dalam bingkai moto kegembalaan saya, “Omnia in Caritate” (1 Kor, 16:14).
Pertama, praktik berpuasa dan pantang. Dalam masa Prapaskah kita perlu berpuasa. Puasa berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari untuk tujuan-tujuan rohani dan amal. Sejalan dengan itu kita didorong untuk berpantang, yakni tidak memakan daging atau jenis makanan yang disukai dalam waktu tertentu. Pantang ini tidak hanya berkaitan dengan makanan tetapi juga dari kebiasaan yang mengikat dan membelenggu diri seperti: pantang rokok, pantang kebiasaan belanja (shopping), pantang main hp, dll. Puasa dan pantang pada gilirannya tidak hanya terikat dengan hal-hal materiil. Santo Basilius dari Kaisarea berkata: “Marilah kita berpuasa yang berkenan dan sangat berkenan kepada Tuhan. Puasa yang benar adalah menjauhkan diri dari kejahatan, pengendalian lidah, menahan amarah, menjauhi hawa nafsu, fitnah, dusta, dan sumpah palsu. Keistimewaan ini adalah puasa sejati.” Jadi puasa dan pantang berkaitan dengan pedagogi diri, pendidikan dan latihan diri untuk semakin menjadi pribadi yang berkualitas. Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk tidak terikat dengan hal-hal materiil dan fana, dan serentak dituntun untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati dalam hal-hal rohani dan langgeng. Terlebih dalam dunia dewasa ini yang semakin diresapi oleh semangat materialistis, kiranya masa puasa menjadi momentum berharga bagi kita untuk berjumpa dengan Allah dan terpikat oleh pesona kasih Nya yang lembut dan abadi.





Tinggalkan Balasan