Kedua, berdoa. Dalam masa prapaskah ini saya mengajak kita untuk mengambil banyak waktu untuk berdoa. Janganlah berdoa hanya ketika kita berada dalam kesulitan. Juga janganlah berdoa hanya ketika kita bersyukur atas rahmat Tuhan yang dialami. Tetapi berdoa hendaknya dilakukan terus menerus dan menjadi kebiasaan dan keseharian kita, sebab doa adalah hakikat dan kekuatan orang beriman. Dalam doalah kita berjumpa dengan Allah yang selalu menyertai suka duka perjuangan hidup sehari-hari. Melalui doalah kita merasakan apa yang dikidungkan oleh pemazmur: “kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!” (Mzm 34:9). Inti doa adalah berjumpa dengan Allah dan menikmati kelembutan kasih-Nya. Doa berarti merasakan hidup yang sepenuhnya dijamah dan digerakkan oleh kasih: “Omnia in Caritate.” Karena itu kepenuhan doa terjadi, tatkala bukan lagi Tuhan yang mendengarkan aku, tetapi akulah yang mendengarkan Tuhan. Esensi adorasi yang sejati bukanlah aku yang memandang Tuhan, tetapi mengalami bahwa Tuhanlah yang memandangku dengan tatapan lembut cinta-Nya. Yesus mengajak kita untuk berdoa dengan “masuk ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu”(Mat 6:6). Maksudnya bukan masuk dalam ruangan tertutup, tetapi sepenuhnya masuk ke dalam diri, ke dalam hati. Karena di sanalah kita merasakan gita cinta Sang Ilahi.

Ketiga, karya amal kasih. Dalam masa prapaskah ini, marilah kita lebih giat lagi melakukan karya amal kasih bagi orang-orang miskin papa, orang sakit dan menderita. Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini, yang membuat begitu banyak orang jatuh sakit dan jatuh miskin, kita perlu semakin menolong mereka yang berkekurangan dan sengsara. Yesus mengajak kita untuk berbagi dengan hati yang tulus, hati penuh cinta: “Janganlah diketahui oleh tangan kirimu sedekah yang diberikan oleh tangan kananmu” (Mat 6:3). Dalam dunia pencitraan dewasa ini, kita dipanggil Tuhan untuk memberi tanpa pamrih. Bantuan, sedikit apa pun itu, sangat bernilai tatkala dilakukan dengan tulus. Bunda Teresa mengingatkan kita bahwa dalam pengadilan akhir, Tuhan tidak akan bertanya, “Berapa banyak hal baik yang sudah engkau lakukan dalam hidupmu?”, tetapi “Berapa besar cinta yang engkau taruh dalam apa yang engkau lakukan itu!”. Marilah kita beramal dalam masa prapaskah ini dengan semangat cinta yang tulus: “Omnia in caritate.”