“Tapi ada jalan kluarnya. Kepada orang atau masyarakat yang butuh sekali KTP itu kita terbitkan data Biodata WNI. Kemudian di WNI itu datanya lengkap dan tanda tangannya pakai barcode. Dulu kita pakai Suket tapi sudah dilarang,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kekosongan blangko e-KTP tersebut terjadi dari pusat. Sehingga imbasnya bisa sampai ke daerah.
“Ini memang satu Indonesia dan dari pusat memang belum ada, dan mungkin mereka belum cetak, kemarin kami dikasi terakhir sekitar 8 ribu. Namun sekarang, targetnya musti 10 ribuan. Karena yang rekam baru sudah 5 ribuan, belum yang mekar RT, hilang, dan rusak,” ucapnya.
“Sekarang masyarakat paling banyak urus ini karena desanya banyak yang mekar, (RT/RW, red) sehingga banyak yang mau dirubah di tambah dengan keperluan untuk kebutuhan penerimaan BLT,” katanya.
Inosensius meminta kepada seluruh masyarakat untuk tetap bersabar sembari menunggu ketersedian blangko, sekaligus menunggu ketersedian dari pusat.
“Tadi kami sampaikan lewat pengumuman untuk jangka waktunya kapan, paling kalau datang besok tinggal cabut pengumuman, sampe pasti dari Jakarta untuk bisa ambil,” tutupnya. (*)



Tinggalkan Balasan