Tiap kita pasti pernah atau akan berada dalam situasi ‘padang gurun’. Di saat itulah kadang kita berada di posisi yang dilematis, antara mengikuti kehendak Tuhan atau kehendak diri sendiri yang kadang sangat hedonis. Atau bahkan kita mengikuti modus yang digencarkan oleh iblis di saat-saat kita rapuh dengan menawarkan apa yang kita inginkan tetapi dengan syarat kita mengikuti maunya mereka. Alias jatuh ke dalam pelukan yang menyesatkan diri.

Ini juga sekaligus adalah tantangan soal ketaatan pada Tuhan. Dalam terjemahan yang lebih sederhana, apakah kita bisa berpantang dan berpuasa di saat tawaran duniawi yang menjadi kesukaan kita makin menggoda? (*)