Kedua: Buah dikenal dari pohonnya. Buah yang baik atau yang tidak baik selalu berasal dari sumbernya yakni pohonnya. Artinya kualitas buah selalu menyingkapkan pohonnya sehat atau sebaliknya.

Makna terkait di dalamnya adalah tentang perbendaharaan yang keluar dari dalam diri (hati). Secara tertentu, hati menjadi tolak ukur sejauh mana tindakan kita diekspresikan keluar.

Dengan demikian, hati selalu menjadi ruang membuka diri untuk menerima hal yang seharusnya baik untuk tindakan konkrit sebagai bukti bahwa kita sungguh menerima sabda Tuhan dengan baik. Mengapa? Karena Tuhan adalah sumber hidup yang selalu adalah kebenaran dan kebaikan dalam hidup kita.

Pertanyaan untuk kita: apakah kita sampai saat ini masih ada dalam kategori selalu melihat selumbar di mata orang dan menolak kesalahan dalam diri? Sejauh mana kita mengaplikasikan sabda Yesus yang selalu kita dengar dan bahkan menerima Tuhan dalam hidup kita (Ekaristi)?