Menurutnya, kelebihan produksi Semen hanya alasan yang dibuat-buat. Pemerintah pusat beralasan bahwa pada bulan Juni lalu, produksi Semen mengalami surplus 30 ribu ton. Sementara pada bulan Agustus, produksinya melonjak hingga surplus naik lagi menjadi 60 ribu ton.

“Pertanyaanya, kenapa masih produksi, sementara mereka tahu bahwa negara ini masih dalam pandemi, sehingga pembangunan skala besar dan nasional pasti tidak bisa dilakukan. Jadi Itu hanya alasan mereka, supaya kita tidak diizinkan,” tegasnya.

Ia menyampaikan, Pemerintah Pusat belum lama ini mengkategorikan NTT sebagai provinsi dengan kemiskinan terekstrim ketiga.

Tapi ketika Pemerintah Daerah berupaya membangun perindustrian untuk memajukan wilayah, serta mensejahterakan rakyatnya justru masih batas-batasi.

“Kalau mau daerah ini jadi baik, maju dan berkembang, maka harus ada industri. Karena kalau industrinya sudah jadi, maka pasti ada daya ungkit. Itu yang kita harapkan,” ucap Marsianus Jawa.

Ditambahkannya, pabrik Semen Kupang yang ada sekarang sudah tidak bisa digunakan lagi. Karena mesinnya sudah tidak bisa diupgrade, dan model pabriknya sudah kadaluwarasa.