“Anak-anak pada semester lalu dalam pembelajaran sudah diajarkan tentang budaya setiap provinsi yang ada di Indonesia. Sehingga mereka sudah mengerti dan memahami keberagaman budaya di NTT,” jelasnya.

Kepsek BMS Kupang berharap agar kegiatan performance mampu memberikan kesempatan bagi siswa siswi untuk mengenal bakat, serta mengembangkan potensi dalam diri mereka masing-masing.

“Sehingga anak-anak bisa berani tampil percaya diri di hadapan para audiens, penonton dan pada acara performance lainnya. Selain itu, mereka dapat memahami dan mensyukuri keberagaman setiap suku bangsa yang ada di NTT,” tandas Aprinoet Selfani.

Ketua Panitia Kegiatan Performance Tony Bani menjelaskan, tema yang diusung adalah “Bouyant Bring The Soul” dengan tujuan untuk mengembalikan semangat belajar yang sempat hilang akibat pandemi Covid-19.

“Tema yang kami angkat adalah budaya. Dimana siswa TK mementaskan budaya NTT yaitu tarian kolaborasi Rabeka dan Kosu dari Timor, tarian Mana Lolo Banda dari Rote Ndao, tarian Padoa dari Sabu Raijua, tarian perpaduan Kataga dan Woleka dari Sumba, dan Gemu Fa Mire dari Flores,” urai Tony Bani.

Sementara siswa siswi tingkat SD BMS Kupang mementaskan tarian daerah Manuk Dadali dari Jawa Barat, Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan Selatan, tarian Tor-tor dari Sumatera, tarian Kipas dari Sulawesi, dan Yamkorambe dari Papua.

“Ada juga Puisi oleh siswa SD, dan drama berjudul Lamoelu sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara oleh siswa tingkat SMP. Kemudian ditutup dengan paduan suara dari siswa SD,” pungkas Tony Bani.

Pantauan Koranntt.com, acara performance berjalan lancar dan meriah serta menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19(*)