“Sisanya masih sampai 2024. Kami juga optimis, itu bisa terpenuhi,” jelasnya.
Robert juga menjelaskan, Bank NTT saat ini tergolong dalam kategori Bank Sehat secara resikonya. Namun dari sisi pengawasan, OJK terus mendorong agar terjadinya perbaikan dalam aspek-aspek tertentu, terutama aspek governance atau tata kelola.
“Pertumbuhannya positif sekarang, baik total aset, kredit, dan juga perolehan laba, serta NPL menurun. Indikator-indikator ini bagus, tetapi kami berulang kali berpesan kepada jajaran manajemen agar tidak terlena dengan kondisi itu,” ungkapnya.
Manajemen diharapkan untuk harus tetap memperhatikan, terutama transaksi dan pengelolaannya, agar memenuhi tata kelola yang baik.
Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho dalam sambutannya menegaskan, Bank NTT terus berkolaborasi bersama pemerintah pusat, pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan sejumlah program kesejahteraan, dan pelayanan kepada masyarakat NTT dan Indonesia.
“Pemenuhan modal inti merupakan penguat untuk peningkatan daya tahan, daya saing, dan daya tumbuh Bank NTT,” kata Alex Riwu Kaho.
Karena itu, Bank NTT juga terlibat langsung dalam setiap program pembangunan, termasuk menjadi bagian dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah, Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Kabupaten/Kota se-NTT, serta terlibat dalam ekosistem pembiayaan sektor pertanian, khususnya komoditi jagung di Nusa Tenggara Timur.
“Khusus komoditi jagung, target penanaman 60 Ha, dengan pembiayaan dari KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp600 Miliar,” jelasnya.
Ia berharap semua program yang telah dicanangkan tersebut dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur. (*)







Tinggalkan Balasan