Konsumsi Ayam dan Telur Sangat Penting untuk Meningkatkan Kesehatan Tubuh

  • Bagikan
Puncak acara peringatan HATN di Provinsi NTT / Foto: Eman Krova

Kupang, KN– Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) pertama kali diselenggarakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk pertama kalinya.

Kegiatan diinisiasi oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indoesia (Pinsar), dengan mengusung tema Ayam dan telur tingkatkan imunitas kesehatan.

Deputi III Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, Drh. Agus Sunanto, mengatakan, konsumsi daging dan telur ayam di negara indonesia tergolong masih sangat rendah, jika dibandingkan dengan negara lain.

“Kalau dibandingkan dengan Malaysia, mereka konsumsi 300 butir telur pertahun dan 20 kg daging pertahun. Sementara Indonesia hanya konsumsi 130 butir telur, dan 9 kg daging pertahun,” ujar Sunanto, Jumat 15 Oktober 2021.

Menurutnya, ayam dan telur merupakan sumber protein yang perlu di tingkatkan untuk dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Jadi kita perlu tingkatkan konsumsi ayam dan telur. Selain itu tingkatkan juga konsumsi ikan, karena NTT memiliki hasil laut yang luar biasa,” jelasnya.

Konsumsi ikan perlu ditingkatkan bagi masyarakat NTT, karena laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) miliki hasil yang bagus, shingga perlu dimanfaatkan secara baik.

“Jadi konsumsi protein ikan juga perlu kita tingktkan. Apalagi di NTT. Karena konsumsi ikan kita masih 55,9 persen. Sedangkan target kita harus 62 kg pertahun,” tandasnya.

Kepala Dinas Peternakan NTT, Johana Lisapali mengatakan, Dinas Pertanian tengah mendorong dan memotivasi kepada para peternak, untuk terus beternak ayam maupun ternaik lainnya.

Menurutnya, dengan beternak ayam, otomatis putaran ekonomi masyarakat akan semakin cepat dan bagus. Sehingga pihaknya akan berikan pendampingan dari tenaga lapangan, baik dari provinsi maupun Kabupaten/Kota.

BACA JUGA:  Elcid Li Bantah Ajak Rektor Undana Adu Jotos

“Karena kalau pelihara ternak, saya rasa pemasaran tidak sulit, karena sebetulnya memang kita masyarakat sangat membutuhkan ternak ayam,” jelas Lisapali.

Untuk merealisasikan, pihaknya akan berikan bantuan dan hibah ternak bagi setiap kelompok untuk memberikan motivasi kepada masyarakat untuk tetap semangat memelihara ternak.

“Seingga menekan inpor daging dari luar, karena harganya lebih murah. Maka itu pemerintah mengambil kebijakan dengan memberikan hibah ternak dan membangun pakan ternak, agar peternak tidak kesulitan,” terangnya.

Dia menambahkan, untuk masalah stuntung di NTT, Pemprov NTT telah berkomitmen dengan seluruh kepala daerah, untuk menekan angka stuntung hingga 10 persen pada tahun 2023 mendatang.

“Jadi komitmen dari seluruh pimpinan dan gubernur bahwa, tahun 2023, stunting di NTT harus diturunkan ke angka 10 persen. Bila perlu hingga 1 digit,” tandasnya.

Ketua Panitia Pusat HATN, Ricky Bangsaratoe, mengatakan, tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan, ditandai dengan pola konsumsi makanan bergizi, seimbang dan aman.

“Ini merupakan investasi untuk membentuk sumber daya yang berkualitas dan sangat berkaitan dengan kesehatan, sehingga menjadikan masyarakat yang tangguh dan daya tahan yang tinggi,” jelasnya.

Dia menjelaskan, kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi, khusunya protein hewani dan peningkatan produksi peternakan, merupakan tanggungjawab bersama.

“Ini tentu menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai rakyat Indonesia untuk selalu berperan aktiv memberikan edukasi terkait pentingnya konsumsi protein bagi masyarakat. (*)

  • Bagikan
error: Content is protected !!