“Dia menangis terus dan kepalanya mulai tambah besar,” ungkapnya.
Karena keterbatasan biaya, sakit yang diderita bayi Yuanita tidak segera ditangani.
“Setiap saat kepalanya tambah besar. Dia tidak bisa duduk, hanya tidur saja dan digendong,” tandas Yane.
Berbekal surat keterangan tidak mampu, bayi Yuanita dioperasi pada tahun 2020. Namun setelah dioperasi tidak dilakukan perawatan lanjutan akibat ketiadaan biaya.
“Untuk makan saja kami susah pak, apalagi untuk berobat,” ujar nenek Yane sambil menitikan air mata.
Dalam ketidakberdayaan, nenek Yane dan Yuanita pasrah pada kebesaran Tuhan. Dia berharap ada dermawan yang bersedia membantu biaya pengobatan cucunya.
“Semoga cucu saya suatu saat bisa sembuh. Dia mengerti apa yang kita omong tapi Dia tidak bisa balas,” tandasnya.
Camat Kelapa Lima, I Wayan Astawa, saat dikonfirmasi awak media mengatakan, pihaknya sudah mengunjungi nenek Yane dan Yuanita.
“Untuk bayi Yunita, kami mendapat informasi bahwa dia menderita gizi buruk dan Hidrosefalus. Sesuai rencana kerja kami, kami melakukan monitoring terhadap seluruh penderita gizi buruk di wilayah kecamatan Kelapa Lima, termasuk bayi Yunita,” jelas Wayan.



Tinggalkan Balasan