Sekalipun terbatas dalam cara pandang, namun tiap manusia ( _red_ kita) harusnya menyadari bahwa karena keterbatasan, maka kita butuh pribadi lain yang tidak terbatas untuk mengatasi keterbatasan kita. Kemahakuasaan Tuhan tak bisa hanya dipahami dari cara pandang yang sangat terbatas dengan logika kita. Kita butuh iman yang total pada-Nya.

*Kedua*: Keraguan Kita. Kita adalah orang yang di satu sisi selalu optimis. Namun di sisi lain selalu juga pesimistik dalam dan tentang diri. Puncak dari sikap pesimis kita adalah membangun kekecewaan dan keraguan pada Tuhan. Salah satu alasannya adalah karena kita beranggapan Tuhan tidak berkenan menolong kita. Teks injil ini adalah salah satu bukti bahwa para murid sekalipun keseharian selalu ada bersama dengan Yesus tapi tidak jadi jaminan mereka serta merta percaya pada Yesus. Ketika mereka digoncang badai, dan Yesus tertidur mereka mulai membangun opini sepihak: Seolah Tuhan lepas tangan, Tuhan tidak adil. Tuhan beginilah. Tuhan begitulah.

Pada akhirnya kita dapat memahami bahwa dalam situasi tapal batas kemampuan manusia, kita cenderung gegabah mengambil kebijakan nilai hidup, kita kadang membuat opini sesuka hati, kita kadang tidak pernah mengoreksi diri. Kita malah menyalahkan Tuhan karena kita berpikir Yesus _tidur_. Yesus tidak peduli. Yesus masa bodoh dengan fakta hidup yang kita alami.