“Jadi suhu mereka akan diukur tiga kali sehari, sehingga kami betul-betul menerapkan prokes yang ketat,” ungkap Benediktus.
Pihaknya juga menyiapkan perlengkapan cuci tangan dan sabun di beberapa tempat, yakni di depan pintu masuk sekolah, dan di depan ruang kelas. Sehingga siswa/i wajib mencuci tangan dan diawasi oleh guru piket.
Soal pengadaan masker atau perlengkapan prokes lainnya, itu diadakan oleh sekolah untuk membantu siswa yang ekonominya menengah ke bawah.
“Paling tidak membantu orang tua mereka. Artinya kalau mereka membayar uang sekolah, setidaknya kami yang menyiapkan itu,” tutur Benediktus.
Maria Arlina selaku peserta didik yang mengikuti Ujian Sekolah mengaku terbantu dengan pembagian masker tersebut.
Menurutnya, dalam menjalani Ujian Sekolah, dia dan peserta didik yang lain akan tetap mematuhi protokol kesehatan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah dan guru-guru,” tutupnya.*







Tinggalkan Balasan