Setelah beberapa pekan pemberlakuan belajar di rumah ini, tentu dapat dijadikan oleh orang tua untuk melihat diri lebih dalam tentang proses mendidik anak. Dengan membayangkan bahwa guru tidak hanya mendidik seorang anak, tetapi ada puluhan anak dengan berbagai macam karakter tentu menjadi sebuah tugas berat. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa guru tidak dapat menanggung sepenuhnya tugas dan beban moral pendidikan seorang anak. Harus ada bantuan orang tua untuk membentuk perilaku dan pengetahuan anak.
Pada skala waktu 24 jam, waktu anak di sekolah hanya kurang lebih 6-8 jam saja, selebihnya ada pada lingkungan keluarga di rumah. Melimpahkan segala “persoalan anak” sebagai ketidakbecusan guru bukanlah tindakan yang tepat. Orang tua harus memiliki dan merasa punya tanggungjawab yang sama dalam proses pendidikan anak, dan setiap masalah yang ada harus diselesaikan bersama, bukan justru menyalahkan guru mereka.
Sejak beredar rumor tentang rencana pembelajaran radio di Kabupaten Sikka (NTT) beberapa hari yang lalu, sebagai pemerhati pendidikan sekaligus sebagai akademisi merasa tidak terlalu sepakat dengan kebijakan tersebut. Berikut beberapa alasan yang mendasarinya antara lain :
1. Tidak semua siswa/i memiliki radio di rumahnya masing-masing. Ini menjadi alasan paling penting dan mesti dipertimbangkan dalam memutuskan penggunaan pembelajaran radio.
2. Tidak semua wilayah di kabupaten Sikka dapat menangkap atau memiliki jaringan pemancar radio yang bagus sehingga siaran pembelajaran radio dapat diikuti dengan baik oleh semua siswa/i di Kabupaten Sikka.
3. Ketidaksesuaian tema dan waktu pembelajaran antara sekolah yang satu dengan sekolah lain. Misalkan begini : sekolah A sebelum pandemi mungkin sudah sampai pada tema X, sedangkan ada sekolah B misalnya sebelum pandemi sudah sampai pada tema Y. Nah ini mesti dibuat suatu penyeragaman tema. Semua guru mata pelajaran sepakat mulai pada tema atau bab mana yang akan diperdengarkan di radio.
4. Hal terakhir ini agak sedikit teoritis yakni soal kemampuan menyimak. Pembelajaran radio,menuntut kemampuan menyimak yang maksimal. Artinya, jika ini menjadi pilihan alternatif maka semua pendengar radio (siswa/i) ini “harus” mempunyai kemampuan menyimak yang baik dan tidak terdistorsi oleh informasi yang tumpang tindih agar semua informasi penting yang disampaikan dapat diterima dengan baik pula karena kita tau : siaran radio (pembelajaran radio) tidak akan pernh diulang-ulang ataupun ada “resiprokal” antara pemberi materi dan pendengar. Misalnya apakah pemberi materi dapat bertanya ” sudah paham belum dengan materi yang diberikan?”.





Tinggalkan Balasan