Mengenang Rafael Miku Beding (Pelukis Mural Gereja Watuneso)

Oleh: Marlin Bato

Tidaklah berlebihan menyebut Rafael Miku Beding sebagai pelukis senior di jamannya. Perjalanan kariernya bermula dari kampung Lamalera, Kabupaten Lembata diujung paling timur pulau Flores. Bertahun-tahun, ia melakoni pekerjaan melukis sekaligus pematung, lalu dipercaya menjadi pelukis candi dan interior gereja Watuneso. Namanya hampir tenggelam oleh jaman. Tak begitu terkenal layaknya perupa-perupa dari belahan dunia barat. Nama-nama seperti Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci, Michaelangelo Buonarroti, Salvador Dali, Rafaello Sanzio dan lain-lain sangat masyur di jamannya.

Namun tidak dengan Rafael Miku Beding. Dia adalah seniman yang menyusuri jalan hening. Belantara yang ditempuh tidak ketahui orang. Namun bakatnya yang terpendam itu justru memantik daya tarik tersendiri. Karya-karya thematik memberi pesan magis.

Usianya masih sangat muda saat sekitar tahun 1953 pater Visser memboyongnya dari kampung kecil Lamalera menuju Watuneso sebuah paroki yang baru saja berdiri. Di Watuneso ia diberi kehidupan yang mapan. Pemuda tampan itu dipekerjakan sebagai pelukis untuk interior gereja yang pada saat itu baru mulai dibangun yang menelan dana sekitar DM. 10.000 (Deutsche Mark).