Pekerjaan itu ia lakoni dengan penuh komitmen. Sepanjang perjalanan kariernya, karya-karyanya selalu dikagumi yang akhirnya menjadi legenda dikemudian hari.
Akan tetapi justru ketika karyanya mulai menjadi lengenda, namanya makin meredup dan tak mampu mengikuti jejak karyanya sendiri. Sebab kebanyakan penikmat seni justru mengidola hasil karya ketimbang pelaku seninya sendiri.
Yah… memang begitulah pekerjaan kaum pelukis mural, suatu profesi yang terhitung jarang terekspos ke publik. Padahal di kalangan pekerja seni, kaum pelukis kerap disebut sebagai ‘sutradara kedua’, mengingat tanggungjawab mereka mengolah sapuan kuas dan kanvas menjadi potongan gambar utuh yang layak dinikmati.
Belakangan ini, karya-karya seni Rafael Beding terancam mati akibat lapuk termakan usia, seiring usia gereja yang semakin hari beranjak senja. Jam gadang di candi gereja pun telah lama tidur terlena. Detak jantungnya sudah tak lagi bergerak. Atapnya sudah bocor dan balok-baloknya sudah rapuh dan patah. demikian pula, pemugaran gambar-gambar lukisan Rafael Beding pun tak mudah, karena memang butuh keahlian (skill) khusus.



Tinggalkan Balasan