Dosen UMI Edukasi Adab dan Latih Penanganan Darurat Medis Lewat Program Pengabdian

Dosen UMI Edukasi Adab dan Latih Penanganan Darurat Medis Lewat Program Pengabdian. (Foto: Dok. Istimewa)

Ende, KNDalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga berkarakter, Dr. Muhammad Fadhil Athief Islam, Sp.An-TI, dosen dari Universitas Muslim Indonesia, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di RS Santo Antonius Jopu, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini mengangkat dua aspek penting, yakni pembentukan adab peserta didik serta pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan sistem Code Blue di lingkungan rumah sakit. Selain itu, kegiatan ini menekankan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh adab yang baik terhadap guru.

Dalam pemaparannya, Dr. Fadhil menegaskan pentingnya menata niat karena Allah SWT, menjaga semangat belajar, serta menghormati guru selama proses pembelajaran.

Beberapa adab yang ditekankan antara lain hadir tepat waktu sebelum perkuliahan dimulai, fokus dan tidak mengganggu saat pembelajaran berlangsung, aktif merespons pertanyaan, serta tidak meninggalkan kelas sebelum guru mengakhiri sesi.

“Mahasiswa tidak bersikap sombong ketika telah menguasai ilmu, melainkan saling membantu sesama dan senantiasa berdoa agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah. Adab dulu, baru ilmu,” kata Dr. Fadhil.

Hal ini menjadi pesan utama yang disampaikan dalam sesi ini, sebagai landasan dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.

Selain pembinaan karakter, kegiatan pengabdian ini juga dilengkapi dengan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan pengenalan sistem Code Blue sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis.

BACA JUGA:  Sidang Dugaan Penggelapan Uang RSIA Dedari, Pengacara Tegaskan Keterangan Ahli Tidak Benar

Peserta diberikan pemahaman bahwa henti napas dan henti jantung dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja, sehingga kemampuan dasar dalam penanganan awal sangatlah penting.
Dalam pelatihan tersebut dijelaskan bahwa Code Blue merupakan sistem aktivasi darurat di rumah sakit yang digunakan ketika terjadi henti jantung atau henti napas pada pasien.

Menariknya, aktivasi Code Blue tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, tetapi dapat dilakukan oleh seluruh staf, baik medis maupun non-medis, sebagai bagian dari sistem respon terintegrasi lintas profesi.

Peserta juga dilatih langkah-langkah penting dalam menghadapi kondisi darurat, mulai dari mengenali tanda henti jantung, memastikan keamanan lingkungan, memanggil bantuan, hingga melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Selain itu, penggunaan Automated External Defibrillator (AED) turut diperkenalkan sebagai alat penting dalam menyelamatkan nyawa pasien.

Simulasi kasus juga dilakukan untuk mengasah keterampilan peserta, salah satunya skenario kejadian di depan poliklinik dengan kondisi pasien tidak sadar dan mengalami gangguan pernapasan.

Dalam simulasi ini, peserta dilatih untuk mengamankan lokasi, mengatur kerumunan, mengaktifkan Code Blue, serta membantu tim medis agar dapat bekerja dengan cepat dan efektif.

Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami pentingnya adab dalam menuntut ilmu, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam menangani kondisi darurat medis.

Dengan demikian, tercipta sinergi antara kecerdasan intelektual, kekuatan karakter, dan kesiapsiagaan dalam menyelamatkan nyawa sesama. (*/ab)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS