Kupang, KN – Produk zat pengatur tumbuh tanaman Atonik 6.0L yang diproduksi oleh PT OAT Mitoku Agrio kini memasuki usia hampir setengah abad di Indonesia.
Sejak diperkenalkan sekitar 50 tahun lalu, produk asal Jepang tersebut kini semakin dikenal dan digunakan oleh petani di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Direktur PT OAT Mitoku Agrio, Suryadi Jaya, mengatakan bahwa pada 2026 ini produk Atonik genap berusia 50 tahun sejak pertama kali hadir di Indonesia.
“Perusahaan kami yang memproduksi ATONIK. Di Indonesia sendiri, ATONIK sudah masuk usia 50 tahun pada 2026 ini,” kata Suryadi kepada wartawan di Kupang, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun pemasaran Atonik lebih banyak difokuskan di Pulau Jawa dan Sumatera. Namun sejak pandemi Covid-19, perusahaan mulai memperluas distribusi ke kawasan Indonesia Timur, termasuk NTT.
“Selama ini kita hanya fokus di Sumatera dan Jawa. Sejak Covid-19, kami mulai memperluas distribusi ke Indonesia Timur,” ujarnya.
Direktur PT Mitoku Sukses Jaya, Gustaf Tamo Mbapa, mengatakan bahwa, penggunaan Atonik di NTT bermula dari kegiatan demonstrasi plot (demplot) yang dilakukan di kebun milik almarhum Petrus Turang, Uskup Agung Kupang saat itu. Hasil percobaan tersebut menunjukkan peningkatan hasil pertanian yang cukup signifikan.
Menurutnya, keberhasilan demplot tersebut membuat almarhum Mgr. Petrus Turang berharap, agar para petani di NTT dapat memanfaatkan produk tersebut untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Atonik saat ini banyak digunakan oleh petani di wilayah Manggarai Raya. Penggunaan produk tersebut disebut turut mendorong peningkatan produktivitas pertanian di NTT,” kata Gustaf.
Ia menegaskan bahwa misi perusahaan memperluas distribusi di NTT adalah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.
“Harapannya pendapatan per kapita petani meningkat. Kalau petani sejahtera, tentu sektor pertanian di NTT juga semakin berkembang,” ujarnya.
Gustaf mengibaratkan penggunaan zat pengatur tumbuh tanaman seperti vitamin bagi manusia. “Kalau orang hanya makan nasi tanpa vitamin, tubuhnya tidak kuat. Begitu juga tanaman,” katanya.
Di sisi lain, Gustaf mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap peredaran produk Atonik palsu yang mulai ditemukan di pasaran, termasuk di Kota Kupang.
Menurut dia, karena kualitasnya yang baik, produk tersebut kerap dipalsukan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Kami mengimbau masyarakat agar berhati-hati jika membeli Atonik dengan harga yang terlalu murah, apalagi dari penjualan online yang tidak jelas,” katanya.
Gustaf menambahkan, saat ini, perusahaan telah memiliki jaringan agen dan distributor resmi di seluruh wilayah NTT untuk melayani kebutuhan petani.
Kuasa hukum PT OAT Mitoku Agrio, Fransisco Bernando Bessi, meminta pihak-pihak yang masih memproduksi atau mengedarkan produk palsu untuk segera menghentikan aktivitas tersebut.
Menurutnya, pihak perusahaan telah mengidentifikasi sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam produksi dan distribusi produk palsu.
“Kami mengimbau agar praktik tersebut segera dihentikan. Semua sudah teridentifikasi, baik tempat produksi maupun bahan yang digunakan,” ujarnya.
Ia juga berharap penyidik di Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur dapat segera menuntaskan penanganan kasus tersebut.
“Kami berharap keberadaan produk Atonik dapat membantu petani meningkatkan hasil panen sekaligus memperbaiki pendapatan dari sektor pertanian di NTT,” pungkasnya. (*)

