Survei Indikator: Peta Politik NTT Sangat Berpeluang Berubah, Pengamat Minta Masyarakat Lebih Kritis

Rilis survei Indikator. (Foto: Istimewa)

Kupang, KN – Lembaga survei Indikator resmi merilis hasil survei tingkat elektabilitas calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, pada Rabu (9/10/2024) sore.

Dalam rilis resminya, Indikator menempatkan pasangan Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) dan Jane Natalia Suryanto di posisi teratas dengan raihan elektabilitas 36,6 persen.

Sementara pasangan Emanuel Melkiades Laka Lena (Melki Laka Lena) dan Johni Asadoma 27,4 persen, disusul pasangan Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu yang meraih 23,9 persen.

Meski Ansy-Jane unggul, namun dari sisi popularitas, Melki Laka Lena lebih unggul dibanding 2 paslon lainnya. Menurut survei Indikator, saat ini tingkat popularitas Emanuel Melkiades Laka Lena (55.2%), kemudian Yohanis Fransiskus Lema (51.5%), Simon Petrus Kamlasi (34.2%), Jane Natalia Suryanto (34%), Johni Asadoma (27.5%), dan Adrianus Garu (22.5%).

Dalam rilis resminya, Indikator juga menyebut, walaupun survei hari ini Ansy-Jane unggul, namun hasil survei ini masih bisa berubah.

“Dinamika elektoral pada pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT ke depan masih sangat berpeluang untuk berubah, terutama karena tingkat kedikenalan calon yang belum optimal. Kandidat yang berhasil menjangkau paling banyak pemilih dalam sisa waktu ke depanlah yang paling berpotensi memenangkan pilkada di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” tulis Indikator dalam salah satu poin kesimpulannya.

Masyarakat NTT Harus Lebih Kritis

Sementara itu, Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Dr Ujang Komarudin berharap masyarakat terutama warga Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bersikap kritis dalam membaca hasil survei terkait Pilgub NTT 2024.

Sering kali hasil survei sengaja dibuat bias untuk menjadi alat kampanye politik dengan cara menggunakan surveyor yang tidak netral atau mensurvei responden yang sudah dikondisikan.

BACA JUGA:  Bank NTT Raih Penghargaaan Jangkauan Terluas dalam Penyaluran Kredit kepada Sektor UMKM

“Pemilih harus kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh hasil survei. Meskipun survei adalah alat penting untuk mengukur dukungan publik, tetapi harus dilakukan dengan metode yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Menurut Ujang Komarudin, hasil survei kadang dianggap menjadi bagian dari framing atau marketing politik dalam rangka meningkatkan elektabilitas calon-calon di pilkada.

“Masyarakat NTT diharapkan fokus pada rekam jejak, integritas, dan visi misi kandidat, dari pada bergantung pada angka-angka survei yang bisa saja dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu,” ujarnya.

Seperti diketahui, lembaga survei Indikator Politik Indonesia baru-baru ini merilis hasil survei terkait elektabilitas pasangan cagub dan cawagub NTT yang berlaga di Pilkada 2024.

“Bagaimanapun hasil survei merupakan acuan untuk kerja elektoral, bukan penentu kemenangan. Masyarakat NTT tentunya harus kritis membaca dan pahami hasil survei yang mungkin bias jadi alat kampanye politik,” tegas Ujang Komarudin.

Di samping itu, masyarakat, kata Ujang Komarudin, juga wajib tahu bahwa data yang muncul dari hasil survei merupakan data lapangan murni. Lalu, surveyor itu juga harus bekerja secara netral independen, tidak boleh ada titipan, dan yang terpenting adalah respondennya itu harus riil bukan yang sudah dikondisikan.

“Misalkan saja, dengan data dan responden yang sama, tiba-tiba ada satu lembaga survei merilis calon A yang unggul sementara banyak lembaga-lembaga survei lain merilis calon B yang menang. Tentunya ini kan jadi pertanyaan juga?,” tandasnya. (Tim)

IKUTI BERITA TERBARU KORANNTT.COM di GOOGLE NEWS