Mari menuju selatan Nusantara sejenak dan singgah di salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur. Pulau yang terdiri dari dua negara, yaitu negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, yang merupakan bagian dari Indonesia.
Timor Barat adalah wilayah yang mencakup bagian barat Pulau Timor. Secara administratif, Timor Barat merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Salah satu suku yang berdiam di wilayah Timor Barat adalah suku Atoni Meto. Suku ini tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Timor yang terletak di bagian selatan provinsi NTT.
Atoni Meto terdiri dari dua kata yakni Atoni berarti orang atau manusia, dan Meto yang secara harafiah berarti tanah kering. Pada umumnya orang biasa menyebutkan Atoni Pah Meto yang berarti “orang-orang dari tanah kering” (H.G Schurtle Nordolt,1966, hal.18).
Sebetulnya, suku bangsa dan kelompok etnis yang mendiami Timor Barat ini sampai dengan sekarang masih terdapat interpretasi yang berbeda-beda. Orang Belu, menyebutnya dengan orang Dawan. Sementara para pedagang asing dari luar Timor menyebutnya Atoni. Ormeling mempergunakan sebutan The Timorese Proper (orang-orang Timor khusus). Sementara Middelkoop mempergunakan ungkapan: people of the Dry Land (Atoni Pah Meto) yang artinya: penduduk, manusia atau orang dari tanah kering.(Ormeling, 1967).
Pada prinsipnya ungkapan yang dipergunakan Middelkoop lebih tepat, aktual dan relevan. Atoni Pah Meto (People of the Dry Land) artinya: penduduk, manusia, atau orang dari tanah kering (Peter Middelkoop, 1982, hal.143).
Matematika
Matematika adalah gerbang ilmu pengetahuan. Mengabaikan matematika akan melukai semua pengetahuan. Seperti itulah kata Roger Bacon, filsuf asal ingris yang lahir pada 1214.
Matematika adalah cara berpikir mahluk hidup sejak mula. Seekor ayam akan tahu jumlah telur yang ia tetaskan. Manusia memakai konsep “sedikit” dan “banyak” dalam berebut sumber daya alam untuk memenuhi nafsu atau sekadar bertahan hidup. Matematika adalah dasar pikir mahluk hidup yang memiliki otak.
Matematika juga adalah tanda kehidupan sosial. Semakin kompleks konsep matematika, kian kompleks pula hidup kita. Ketika orang Babilonia belum memikirkan dan menemukan angka 0, pikiran manusia hanya soal bertahan hidup. Ketika angka 0 ditemukan di India, arsitektur berkembang sangat pesat. Kini kita mengenal komputer yang super-canggih berkat algoritma.
Dalam sebuah buku berjudul A Brief History of Mathematical Thought , Luke Heaton—matematikawan dari Universitas Oxford, Inggris—melacak konsep matematika ke zaman purba, ke sejarah Yunani, Mesir Kuno, hingga Mesopotamia.
Dari Heaton kita tahu bahwa konsep bilangan jauh lebih tua ketimbang konsep percakapan. Matematika sama tuanya dengan bahasa manusia. Orang zaman dulu merumuskan konsep perhitungan, jumlah, jarak, atau ukuran ke dalam lambang-lambang. Kita mengenalnya kini sebagai angka. Tapi matematika bukan semata bilangan.
Matematika adalah bahasa. Karena itu bukan angka dan hasil yang paling penting. Seperti bahasa, dalam rumus dan konsep matematika yang paling penting adalah argumen. Juga seperti bahasa, matematika adalah pola yang disusun dan ditemukan lalu dikonsepsikan menjadi rumus, menjadi torema.
Orang Mesopotamia sudah memakai perhitungan Phitagoras dalam menghitung bidang persegi, ratusan tahun sebelum Phitagoras lahir. Mereka bahkan sudah merumuskan konsep dasar perhitungan sudut dan lingkaran yang kini kita kenal sebagai ilmu trigonometri.
Etnomatematika
Tiap-tiap kebudayaan punya konsep matematikanya sendiri. Orang Sumeria kuno, misalnya, tak memakai bilangan persepuluh dalam konsep perhitungan, tapi kelipatan 60. Karena itulah kita mengenal sudut 3600 atau satu jam sama dengan 60 menit, dan satu menit adalah 60 detik.
Penggunaaan nilai-nilai matematika dalam suatu kebudayaan atau adat istiadat yang ada pada suatu komunitas masyarakat disebut etno-matematika.



Tinggalkan Balasan