KUPANG, KN — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, secara resmi membuka Yayasan Sola Gratia Kupang yang ditandai lewat prosesi penandatanganan prasasti di Gereja HKBP Resort Kupang pada Sabtu (30/5). Momentum ini sekaligus meresmikan operasional Pos Pelayanan Kesehatan Gereja serta Pelita Kasih Preschool, sebagai langkah konkret institusi keagamaan dalam memperluas akses edukasi formal dan pengecekan medis bagi masyarakat.

Agenda resmi tersebut dihadiri oleh Pendeta Resort HKBP Kupang, Pdt. Icce Lolaria Sinaga, M.Th., pemimpin yayasan dr. Rachmat Willy Sitompul, M.Kes., penanggung jawab pos kesehatan dr. C. J. Siburian, M.Kes., Sp.PK., serta Kepala Sekolah Pelita Kasih Preschool, Grace Purba, S.Pd., M.Pd. Tampak hadir pula sejumlah pemuka agama, praktisi medis, serta jajaran pimpinan dinas terkait yang mendampingi jalannya acara.

Saat memberikan arahan, Wali Kota Kupang menggarisbawahi bahwa pluralisme warga merupakan modal sosial utama yang wajib dirawat lewat ikatan persaudaraan yang harmonis. Ia mengibaratkan keberagaman seperti susunan tangga nada dalam komposisi musik.

“Keselarasan itu bukan berarti harus seragam, melainkan terciptanya keseimbangan. Kita tidak mungkin menyamakan semua pribadi karena masing-masing individu memiliki keunikan sejak lahir. Namun, kita punya ruang untuk hidup berdampingan dengan damai. Layaknya variasi nada dalam sebuah melodi, apabila disusun secara tepat, akan melahirkan harmoni yang elok. Begitulah potret Kota Kupang, perbedaan menjadi energi penguat, bukan pembatas,” tutur dr. Christian.

Orang nomor satu di Kota Kupang ini turut mengapresiasi terobosan Yayasan Sola Gratia Kupang yang dipandang nyata meringankan beban pemerintah daerah dalam mendongkrak mutu sekolah usia dini sekaligus penyediaan fasilitas kesehatan publik.

Menurutnya, sebuah organisasi harus memberikan dampak konkret dan bukan sekadar pajangan formalitas belaka. Baginya, sebuah lembaga mirip dengan sebuah bahtera yang dirancang bukan untuk berdiam diri di pelabuhan aman, melainkan harus berani mengarungi samudra dan menembus ombak. Institusi ini dinilai telah melangkah jauh dalam menolong warga Kupang mengatasi kendala di sektor krusial tersebut.

Ia juga menyampaikan rasa hormat kepada seluruh jemaat HKBP yang konsisten mengawal laju pembangunan daerah selama puluhan tahun. Bertepatan dengan momen historis 140 tahun berdirinya Kota Kupang serta tiga dekade statusnya sebagai wilayah otonom, keberadaan HKBP selama 30 tahun di sana diakui telah mengorbitkan banyak figur potensial yang berkontribusi di sektor birokrasi, hukum, pendidikan, hingga geliat bisnis swasta.

“Saya menghaturkan ucapan terima kasih yang mendalam karena jemaat HKBP telah mengambil peran dalam linimasa perkembangan Kota Kupang. Banyak tokoh hebat lahir dari rahim gereja ini dan aktif menyokong kemajuan kota yang kita cintai bersama,” ungkapnya.

Wali Kota juga menginformasikan adanya peluang penyaluran dana hibah dari pemerintah kota guna membenahi fasilitas rumah ibadah, asalkan menempuh regulasi penganggaran yang sah. Di samping itu, ia memberi atensi khusus terhadap kepedulian HKBP dalam membidani sekolah anak usia dini.

Pembangunan Pelita Kasih Preschool, menurutnya, mengemban beban moral yang besar guna mencetak generasi penerus yang berintegritas, cerdas, serta kompetitif di masa depan.

“Dari ruang kelas yang bersahaja inilah nantinya lahir calon pemimpin masa depan Kota Kupang. Sangat terbuka peluang bagi lahirnya pelaku usaha sukses, seniman, dokter, penerbang, bahkan figur wali kota berikutnya. Oleh sebab itu, saya menitipkan pesan agar sekolah ini dikelola menjadi kawasan yang terlindungi, higienis, ramah terhadap tumbuh kembang anak, dan steril dari segala bentuk intimidasi fisik maupun psikis,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Pendeta Resort HKBP Kupang, Pdt. Icce Lolaria Sinaga, M.Th., memaparkan bahwa sinode HKBP kini telah menginjak usia 165 tahun, sementara pelayanan mereka di tingkat Resort Kupang tepat memasuki tahun ke-30. Ia menegaskan bahwa pendirian badan hukum yayasan, klinik pratama, serta sekolah PAUD ini murni dorongan sosial untuk menjadi berkah bagi sesama di tengah segala keterbatasan yang ada. Mereka berkomitmen penuh untuk terus berkolaborasi dengan jajaran birokrasi lewat doa dan aksi nyata.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana, dr. C. J. Siburian, M.Kes., Sp.PK., merincikan dalam laporannya bahwa Sola Gratia yang bermakna “Hanya Oleh Anugerah” didesain sebagai payung pelayanan sosial yang menyeluruh. Tiga unit usaha yang diluncurkan memiliki spesifikasi penunjang yang mumpuni.

Pos pelayanan kesehatan diperkuat oleh jajaran dokter spesialis, dokter umum, dan dokter gigi yang siap melayani seluruh lapisan masyarakat secara inklusif tanpa memandang latar belakang suku atau keyakinan tertentu. Sementara itu, Pelita Kasih Preschool diproyeksikan mengakomodasi anak usia 2 hingga 6 tahun lewat adopsi sistem pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dengan pengantar bahasa Inggris penuh oleh guru-guru tersertifikasi.

Sebagai penutup dari rangkaian seremoni peresmian, panitia menyelenggarakan aksi sosial berupa pengobatan dan pemeriksaan kesehatan massal secara cuma-cuma. Kegiatan kemanusiaan ini menggerakkan sekitar 20 praktisi kesehatan dari berbagai keahlian profesi, dan sukses menyasar 200 penerima manfaat yang berasal dari jemaat internal maupun warga umum di sekitar lingkungan gereja. (agn)