Selain itu, Viktor menilai edukasi dan keterbukaan informasi kepada masyarakat menjadi faktor penting agar pengembangan geothermal dapat dipahami secara utuh. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan lebih siap mendukung pengembangan energi bersih yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial.
Ia juga meluruskan kekhawatiran yang berkembang di masyarakat terkait anggapan bahwa geothermal dapat menimbulkan dampak seperti kasus lumpur Lapindo. Menurut Viktor, karakteristik geothermal sangat berbeda, baik dari sisi geologi maupun sistem operasionalnya.
“Potensi yang ada jika dimanfaatkan dengan baik akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” kata Viktor.
Viktor menjelaskan, sumber panas bumi berada di kawasan pegunungan dengan lapisan batuan keras pada kedalaman sekitar 1.000 hingga 3.000 meter. Kondisi tersebut berbeda dengan pengeboran migas pada lapisan lumpur lunak seperti yang terjadi pada kasus Lapindo.
Dalam operasionalnya, fluida panas bumi dimanfaatkan untuk menghasilkan uap sebagai penggerak turbin pembangkit listrik. Setelah digunakan, fluida tersebut dikembalikan kembali ke dalam reservoir untuk menjaga keberlanjutan sistem panas bumi.







Tinggalkan Balasan