Ia menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan fondasi pendidikan dasar belum berjalan optimal. Karena itu, pembenahan pendidikan menurutnya harus dimulai dari sekolah dasar, bukan hanya di jenjang menengah atau perguruan tinggi.
“Kalau memperbaiki pendidikan dimulai dari SMP atau SMA itu sudah berat. Kuncinya ada di SD. Hampir semua anak usia SD bersekolah, lebih dari 90 persen. Tetapi ketika masuk SMP tinggal sekitar 50 persen, dan saat SMA hanya sekitar 25 persen yang melanjutkan,” ujarnya.
Melki juga menyoroti sistem kenaikan kelas yang dinilai terlalu longgar sehingga tidak mendorong peningkatan kualitas belajar siswa. Ia meminta dinas pendidikan dan pemerintah daerah meninjau kembali regulasi tersebut agar tidak menurunkan standar pendidikan.
“Kalau anak tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung tetapi tetap naik kelas, maka masalahnya akan terus terbawa sampai jenjang berikutnya. Kalau SD sudah jebol, maka SMP dan SMA pasti bermasalah,” tegasnya.
Ia bahkan mengusulkan agar sistem pendidikan memberi ruang untuk menahan siswa di kelas tertentu, jika kemampuan dasar mereka belum terpenuhi, selama tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku.





Tinggalkan Balasan