“Iklim NTT sangat ideal untuk produksi garam. Kondisinya mirip Dampier di Australia, yang merupakan salah satu penghasil garam terbesar dunia,” ujar Gubernur Melki.

Ia menjelaskan, produksi garam NTT pada 2024 mencapai 15,79 juta kilogram dengan luas lahan yang dimanfaatkan sebesar 2,16 juta meter persegi.

“Provinsi ini masih memiliki peluang ekspansi lahan hingga 25.914 hektare. Dua daerah penyumbang garam terbesar ialah Nagekeo 37% dan Sabu Raijua 33%,” jelas eks anggota DPR RI ini.

Meski demikian, Gubernur Melki mengakui, masih terdapat tantangan yang perlu dibenahi, di antaranya kualitas garam (kandungan NaCl), kerentanan terhadap perubahan iklim, kapasitas SDM petambak, serta defisit garam industri nasional yang masih berada di atas 1 juta ton.

“Justru di sini letak peluangnya. Dengan teknologi yang mereka miliki, kita bisa meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi garam NTT, untuk memenuhi kebutuhan industri nasional, bahkan ekspor,” tambahnya.

Dalam dialog tersebut, beberapa agenda kemitraan strategis mulai dibahas, antara lain, transfer teknologi untuk meningkatkan kualitas garam, otomasi tambak, dan efisiensi manajemen produksi, pengembangan pabrik garam terintegrasi dengan model salt-chemical-energy ala Jiangxi, penjajakan hilirisasi produk untuk kebutuhan industri, farmasi, dan sektor kimia, pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM petambak NTT oleh teknisi Jiangxi, dan rencana penilaian lapangan (site assessment) di Kupang, Nagekeo, dan Sabu Raijua.