“Kita bersyukur di era Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menetapkan 10 tokoh nasional sebagai Pahlawan Nasional, termasuk Presiden ke-2, H. M. Soeharto. Menjadi tokoh besar tentu tidak mudah, semakin besar pro dan kontra justru menunjukkan pengaruh tokoh tersebut,” ucapnya.

Melki yang juga Gubernur NTT ini, menyoroti keberhasilan Indonesia di masa pemerintahan Soeharto, seperti beasiswa Supersemar, swasembada beras, kemandirian energi, serta stabilitas politik dan ekonomi.

“Indonesia pernah diakui sebagai macan Asia. Di era Pak Harto, pertumbuhan ekonomi berjalan baik dan pemerataan terjadi. Bahwa di akhir pemerintahannya ada persoalan, hal itu juga dialami pemimpin-pemimpin lain. Secara objektif, kita harus mengakui bahwa di masa beliau, Indonesia dan NTT maju,” katanya.

Selain itu, Melki mengingatkan berbagai program peninggalan Soeharto yang berdampak besar bagi rakyat, seperti pembangunan SD Inpres, Puskesmas, dan program Beasiswa Supersemar.

“Pak Harto tidak banyak bicara, tapi beliau berbuat banyak untuk bangsa. Sebagai kader Partai Golkar, kita bersyukur karena beliau pernah menjadi Dewan Pembina Partai Golkar. Golkar saat itu menjadi partai yang kuat dan berpengaruh besar dalam pembangunan bangsa,” tutur Melki.