Kupang, KN – Pemerintah dan Warga Kelurahan Nunleu menegaskan komitmen dalam kebersamaan, untuk mendukung program unggulan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Serena Cosgrova Franscis.
Hal-hal seputar penanganan sampah, pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, pemenuhan kesehatan dan ketertiban sosial semakin hidup, dalam gerakan kolektif warga Nunleu.
Plt Lurah Kelurahan Nunleu, Jonetha Pello, S.Pi menyampaikan bahwa, berbagai kegiatan yang dikerjakan di tingkat kelurahannya, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Kupang.
Ia menyebut, program-program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemaslahatan warga Kota Kupang. Kebersihan, kesejahteraan, kesehatan, kelestarian dan ketertiban menjadi pilar penting untuk mengoptimalkan kehidupan masyarakat.
“Soal sampah, saya sudah bicarakan dengan RT RW. Mereka bekerja di wilayah masing-masing. Jika memungkinkan, hari Kamis/Jumat biasanya kami bisa kerja bakti bergantian lokasi. Setelah kerja kami kirim foto supaya diteruskan ke grup penanganan sampah Kota Kupang,” ujar Jonetha saat diwawancarai pada Senin (10/10/2025) pukul 11.10 WITA.
Ia menjelaskan, selama ini pihak Kelurahan Nunleu bersama warga, terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, dalam penanganan sampah.
Jonetha juga mengimbau masyarakat agar menjaga lingkungan, kebersihan, dan kesehatan terutama anak-anak dalam peralihan musim ini.
“Kalau lingkungan kita tidak bersih anak-anak kita akan sakit terkena gigitan nyamuk demam berdarah (DBD). Wabah muntaber bisa saja muncul. Jadi kita mulai menjaga kebersihan dari rumah tangga supaya lingkungan kita bersih dan anak kita sehat,” tegas Jonetha mengingatkan warganya.
Kelurahan Nunleu dilengkapi pula dengan empat posyandu. Jonetha menerangkan pihaknya kerap berkoordinasi perihal kesehatan anak seperti imunisasi atau stunting. Bidan, perawat dan dokter dari Puskesmas Bakunase juga sering turun langsung di Posyandu. Biasanya dilakukan sosialisasi tentang penyakit DBD dan penularannya, muntaber, Keluarga Berencana (KB), dan imunisasi anak.
Dari sisi pelestarian budaya, Jonetha menjelaskan, festival budaya yang dilaksanakan bulan September silam, menyajikan lima kegiatan yakni lomba tarian Foti laki-laki dan perempuan, tarian tradisional flobamora, fashion show anak-anak dan vokal grup lagu bernuansa Rote.
“Partisipasi publik aktif dan banyak. Waktu itu tenda penuh. Bahkan ada pengusaha dari alak juga berkoordinasi dengan kami untuk membuka stan jualannya,” ujar Jonetha.
Ia juga menegaskan dukungan warga Nunleu terhadap kebijakan jam pesta yang ditetapkan oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo. Jonetha mengatakan, setiap kali ada kesempatan, ia selalu menghimbau warga untuk menjaga ketertiban sosial, baik melalui media komunikasi seperti grup WA, maupun pertemuan-pertemuan langsung.
“Saat ada kesempatan di acara masyarakat seperti tempat duka saya mohon izin untuk menyampaikan informasi soal jam pesta. Kebijakan itu bukan berarti tidak ada pesta. Hanya saja pukul 22.00 WITA sebaiknya dikecilkan suaranya. Pukul 00.00 WITA baru dihentikan pestanya,” jelas Jonetha.
Apabila pembatasan ini tidak diindahkan, dan ada laporan ketidaknyamanan dari warga, pihak kelurahan akan menindaklanjuti secara langsung bersama Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas).
Pemerintahan Kelurahan Nunleu sudah menghimbau setiap kali ada izin untuk mengadakan pesta. “Saya sudah ingatkan waktu urus izin keramaian. Saya minta RT dan RW harus kawal. Apabila ada laporan yang mengganggu masyarakat saya bersama babinkamtibmas turun ke lokasi,” tegas Jonetha.
Jonetha mengaku sejauh ini belum ada aduan karena warga sudah sadar perihal ketertiban sosial. Selain itu, pihaknya gencar mengevaluasi dan mengawasi aktivitas di wilayah kerja kelurahannya. “Kita sepakat menjaga lingkungan kita di saat pesta agar mencegah ketidaknyamanan masyarakat di sekitar,” ujar Jonetha.
Ia menyampaikan, tantangan lainnya dalam kerja-kerja kolektif ini terkadang datang dari masyarakat itu sendiri. Meskipun sudah ada yang punya kesadaran dan keterlibatan, namun tidak bisa dipungkiri masih ada yang belum sadar dan apatis.
“Jadi biasa saya info ke RT untuk merangkul, memberdayakan dan menyadarkan mereka yang belum aktif,” jelas Jonetha, perihal optimalisasi keterlibatan warga.
Jonetha berharap solidaritas dan kerja sama antara pemerintah dan warga di Kelurahan Nunleu dengan pihak-pihak terkait lainnya dapat terjalin dengan baik dan terjaga kualitasnya.
Pada prinsipnya pihak kelurahan memastikan akan menindaklanjuti dan siap melaksanakan program dari pemerintahan kota kupang.
“Ya semua informasi dari Pak Wali Kota, kita siap laksanakan demi masyarakat Kota Kupang yang lebih baik,” pungkas Jonetha.
Sementara itu, Sekretaris Kelurahan Ade Ayub Peter Ndoen, S.H. menjelaskan, pihak kelurahan sudah bekerja untuk distribusi sampah. Ia juga sudah menghimbau masyarakat, agar distribusi sampah ke TPS dilaksanakan bersama petugas kebersihan Kota Kupang.
“Sudah ada titik-titik pembuangan sampah (TPS), dan sosialisasi di Kelurahan Nunleu. Ada 3 titik TPS di wilayah Nunleu,” ujar Ade saat ditemui di kantornya.
Ia menerangkan, salah satu tantangan dalam penanganan sampah di Kelurahan Nunleu, adalah lokasi pembuangan sampah karena kawasan padat penduduk.
Jika sekali saja terjadi keterlambatan pengangkutan sampah, dapat mengganggu kenyamanan hidup warga di sekitarnya.
“Dulu pernah ada TPS dekat rumah warga. Lantaran terjadi penumpukan akibat terlambat angkut, terlebih posisinya di depan rumah warga, mengakibatkan bau tidak sedap mengganggu aktivitas warga,” ujar Ade.
Tahun ini, Festival Budaya dilaksanakan di lahan belakang Gereja Pentekosta di Indonesia (GPdI) Calvary. Tahun ini warga mengusung konsep etnis Rote. Selain itu, warga pun melibatkan UMKM lokal untuk berjualan di lapak yang disediakan. Pagelaran tersebut dikoordinasikan bersama Dinas Pariwisata Kota Kupang.
“Kalau UMKM kita punya itu ada. Waktu event budaya itu kita selalu tampilkan mereka. UMKM ada yang tenun ikat dan konsep daur ulang dari barang bekas seperti botol plastik pernah dibuat,” tutup Ade. (AGN/ADV)



Tinggalkan Balasan