Kupang, KN – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal turut memeriahkan Festival Budaya, yang diselenggarakan oleh pemerintah dan Warga Kelurahan Bello, dalam Program Lestari Budaya Pemerintah Kota Kupang.

Kegiatan Festival Budaya ini, merupakan program unggulan Wali Kota Kupang dan Wakil Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dan Serena Cosgrova Francis dalam melestarikan budaya, sekaligus menggerakan ekonomi masyarakat.

Pantauan Koranntt.com, di sebelah kanan panggung di venue festival budaya berdekatan dengan jalan raya, para pelaku UMKM bergeliat menjual berbagai jenis kuliner lokal maupun umum di lapak yang disediakan panitia.

Lurah Kelurahan Bello, Robynson Emlimasir Lona, S.H., menyampaikan, pagelaran budaya ini dirancang secara inklusif, sesuai sifat budaya itu sendiri yang multidimensi. Salah satunya budaya dalam aspek ekonomi.

“Festival ini menyediakan pengalaman ekonomi berbasis komunitas lokal. Hal ini dilaksanakan, sesuai program kebijakan Pemerintah Kota Kupang dalam memberdayakan budaya dan UMKM Kota Kupang,” jelas Robyson kepada Koranntt.com di lokasi Festival Budaya Kelurahan Bello, Minggu (9/11/2025).

Ia menguraikan, di lokasi Festival Budaya Kelurahan Bello, tersedia beraneka ragam olahan kuliner di lapak UMKM festival budaya ini. Di antaranya ada dagangan kudapan oleh pihak pemerintah Kelurahan Bello.

Ada pula olahan pangan lokal seperti jagung rebus, bubur kacang hijau, cimol dan kopi, oleh Pemuda Gereja Efata Bello dan produk UMKM pribadi warga Kelurahan Bello.

Merlin Bistolen, wanita berusia 21 tahun adalah salah satu pelaku UMKM lokal di Kelurahan Bello. Produk yang dijual biasanya keripik pisang cokelat namun karena keterbatasan ia hanya menjual cimol gurih di Festival budaya ini.

Beta hobi masak dan jualan. Jadi pas ada festival begini beta manfaatkan hobi untuk jualan. Beta juga sering jualan sehari-hari tapi memang tidak setiap hari,” kisahnya.

Selama ini, ia mengaku hanya berjualan secara individu, mengandalkan lingkungan pertemanannya. Merlin mengaku bersyukur, bisa mendapatkan peluang berjualan di festival ini, sehingga bisa memperluas jangkauan konsumennya.

“Sejauh ini penjualan di festival bagus. Dari biasanya berbeda. Karena ini terfokus di satu venue dan event sedangkan biasanya jualan tergantung pesanan. Biasanya, karena dikenal teman-teman jadi biasa dibeli oleh kawan-kawan atau kenalan. Tapi kalau di sini konsumennya bisa lebih beragam karena masyarakat semua yang hadir bisa saja jadi pembeli,” jelas Merlin.

Saat diwawancara Koranntt.com pukul 18.00 WITA, tampak meja jualan Merlin sudah sepi karena hampir ludes laku terjual. Tertinggal dua mika cimol jualan saja.

“Puji Tuhan ini sudah mau habis jualannya beta. Awalnya beta ragu jangan sampai tidak laku karena baru awal beta buat ini. Tapi pas datang tidak sangka ternyata hampir habis tinggal dua mika saja. Secara hitungan sekarang harusnya sudah untung,” jelas Merlin, yang bersyukur, karena jualannya dapat untung di festival budaya ini.

Bersebelahan dengan lapak Merlin, ada juga dagangan kopi, jagung rebus, dan bubur kacang hijau. Produk kuliner itu adalah usaha milik pemuda gereja Efata Bello. Mereka bergerak secara komunitas menjajakan olahan bersama.

Lian Amnifu, gadis remaja yang sepantaran dengan Merlin juga tengah menjual dagangan milik komunita pemuda gerejanya. “Kami ambil kesempatan dari kegiatan ini untuk jualan produk lokal,” ujar Lian.

Cimol ada yang dipatok harga Rp5.000 dan Rp7.000 per mika sesuai besar kecil ukurannya. Satu Jagung rebus seharga Rp5.000. Kopi dijual dengan harga Rp5.000 per cup.

Merlin dan Lina bercerita, mereka dapat berjualan di festival ini karena sudah berkoordinasi dengan panitia.

“Kebetulan ketua pemuda kita adalah panitia festival budaya ini jadi dia langsung lobi kasih kami lapak untuk jualan,” ujar Lina.

Tantangan yang mereka hadapi termasuk good problem, karena yang menantang saat berjualan adalah ramainya pengunjung yang membeli dagangan mereka.

“Kami masing-masing hanya satu orang yang jaga, sedangkan yang datang belanja ramai jadi pusing,” ujar Merlin.

Merlin dan Lina mengaku, merasakan dampak positif bagi giat UMKM dari terselenggaranya festival budaya ini.

Mereka berharap kegiatan ini dapat berlangsung terus-menerus, sehingga semangat mereka dalam berdagang pun dapat tersalurkan dengan baik. (AGN/ADV)