Agenda dilanjutkan dengan melihat secara langsung kondisi tambak dan hasil budidaya di lapang. Tim dosen menilai bahwa hasil tambak belum optimal dan membutuhkan pengelolaan yang sesuai standard. “Kolam tambak perlu dikeruk lebih dalam dan didesain ulang supaya siap menjadi media pembesaran ikan bandeng. Sangat disayangkan karena lokasinya sangat strategis dan bandeng dapat dengan mudah didapat dari alam”, ujar Esa Fajar Hidayat, MSi. Menambahkan dari sudut pandang fisiologi perikanan, Mega Yuniartik, MP turut berkomentar “Bandeng yang didapat dari alam setelah pengecekan masih berukuran kecil, belum mencapai minimal budidaya. Harus ada proses pembesaran sebelum menjadi indukan yang ideal”.

Di lokasi tambak, tim memberikan pelatihan metode pembesaran ikan dengan pendekatan empiris disertai dengan penggunaan alat standard laboratorium.

“Kami mambawa kolam bioflok, refraktometer, kertas lakmus, termometer, dan contoh pakan sesuai ukuran ikan untuk dipergunakan sesuai pemanfaatannya dalam meningkatkan kualitas hasil budidaya bandeng. Bapak dan ibu semoga penyempaian yang kami berikan menjadi manfaat dan kami terbuka untuk diskusi berkelanjutan setelah kegiatan ini” pesan ketua tim Dr Saat Mubarrok di akhir pelatihan, disertai serah terima alat teknologi kepada masyarakat.

“Kami berterima kasih atas perhatian Bapak/Ibu dosen yang sudah jauh-jauh datang ke desa kami untuk memberikan pelatihan. Semoga apa yang sudah disampaikan dan dilatihkan dapat dilanjutkan oleh masyarakat khususnya petambak lokal. Pelatihan ini sangat penting dalam kapasitasnya menguatkan ketahanan pangan, terutama bandeng ini potensi desa yang satu-satunya di Kabupaten Ngada” ujar Laurensius Ranu selaku Kepala Desa Lengkoasambi Timur.

“Tanpa mengurangi rasa terima kasih, mohon Bapak/Ibu dosen bisa datang kembali untuk memberikan pelatihan produksi pakan alami untuk budidaya ikan. Kami melalui SMK Perikanan sudah memiliki alat yang memadai untuk produksi tapi tidak tahu caranya membuat pakan. Selama ini kami harus beli dengan ongkos yang mahal, dan itu memberatkan petambak padahal kami punya bahan dan alatnya” Laurensius Ranu menutup kegiatan. (*/ab)