Kupang, KN – Awal November, langit Kota Kupang memerah. Biasanya di bulan November, di setiap sudut jalan, pesona bunga Sepe, flamboyan merah kebanggaan warga Kota Kupang, menyapa siapa saja yang melintas. 

Warnanya menyala, seolah membisikkan kabar: Natal sudah dekat, dan saatnya pulang ke rumah. Suasana itulah yang mengiringi pelaksanaan Festival Sepe 2025 di Taman Nostalgia Kupang, Sabtu dan Minggu (1–2 November 2025). 

Pelaksanaan Festival Sepe 2025 ini, merupakan wujud nyata dari visi dan misi Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francis, yakni Kota Kupang Berbudaya dan Berkarakter. Dalam visi ini, salah satu program yang dijalankan adalah pelestarian budaya dan kearifan lokal lewat sejumlah kegiatan, salah satunya adalah Festival Sepe 2025. Kegiatan ini digelar oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kupang. 

Pantauan Koranntt.com saat pelaksanaan Festival Sepe 2025, Taman Nostalgia, yang biasanya tenang, berubah menjadi ruang penuh warna dan cerita. Musik tradisional bergema, aroma kuliner lokal menguar, dan kain tenun Sepe menari di bawah sinar bulan.

Di tengah keramaian itu, Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francies tampak tersenyum hangat. Bagi Serena, Festival Sepe bukan hanya acara tahunan, melainkan panggilan hati untuk merawat jejak budaya, yang menjadi identitas warga Kupang.

Tarian Tradisional Sepe dipentaskan dalam Festival Sepe 2025 (Foto: RKK/Koranntt.com)

Serena menyebut, bunga Sepe flamboyan merah yang bermekaran akhir tahun, bukan sekadar keindahan alam, tapi simbol harapan, sukacita dan kerinduan akan rumah.

“Ketika bunga Sepe mekar itu di setiap sudut-sudut kota di bulan November, itu mengingatkan anak-anak rantau untuk pulang sudah. Natal su dekat. Jadi kita seperti diingatkan untuk pulang kepada nilai-nilai persaudaraan, dan kasih yang menjadi dasar di kehidupan orang Kupang,” kata Serena. 

Ia menerangkan, Festival Sepe diselenggarakan, bukan sekadar untuk menampilkan pesona bunga flamboyan, tetapi untuk meneguhkan Sepe sebagai icon budaya dan identitas Kota Kupang.

“Melalui kegiatan ini, kita merawat warisan, menumbuhkan kebanggaan, dan menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi muda, agar mereka mencintai daerahnya dengan cara yang kreatif dan bermakna,” terangnya.

Dengan bangga, Wakil Wali Kota Kupang Serena Fancies menyampaikan, tenun ikat motif bunga Sepe telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Kemenkumham RI.

“Saya ke mana-mana selalu pakai baju tenun dengan motif Sepe. Ini tugas kita semua sebagai warga Kota Kupang untuk mulai memperkenalkan motif kita, yaitu motif Sepe,” ajaknya.

Melalui Festival Sepe 2025, Serena yakin, ke depan makin banyak lagi masyarakat yang mengenal tenun dengan motif Sepe. 

“Kita melaksanakan festival ini di Taman Nostalgia sebagai pusat kegiatan SABOK, agar semangat budaya dan ekonomi kreatif, dapat berpadu menjadi satu gerak bersama,” tegasnya.

Selendang tenun motif Sepe digunakan oleh pengunjung kegiatan Festival Sepe 2025. (Foto: RKK/Koranntt.com)

Wawali Serena mengajak semua pihak, untuk terus menjaga warisan budaya, dengan cara mendukung para pengenun, desainer dan pelaku UMKM agar mereka terus berkarya.

“Mari kita jadikan setiap helai tenun Sepe serta setiap lapak SABOAK sebagai simbol kasih, harmoni dan kebersamaan, sebagaimana kita membangun Kota Kupang, sebagai rumah bersama bagi semua,” ajaknya. 

“Semoga Festival Sepe tahun 2025 berjalan lancar, membawa sukacita, berkah dan kebanggaan bagi kita semua,” tutupnya. 

Ketua Panitia Festival Sepe 2025 Margaritha Salean menyampaikan, Sepe memberikan keindahan warna tersendiri untuk warga Kota Kupang. 

Sepe bukan hanya mempercantik wilayah Kota Kupang, tetapi menambah kekayaan budaya warga Kota Kupang. Sepe juga disebut sebagai akar budaya yang akan diwariskan secara turun temurun, kepada anak cucu warga Kota Kupang.

“Dinas Pariwisata Kota Kupang melaksanakan Festival Sepe 2025 dengan tema The Charm of Weaving in The Soul of The Successor,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Festival Sepe 2025 meliputi kegiatan lomba tenun motif Sepe, yang melibatkan anak usia SMA dan mahasiswa di Kota Kupang. 

“Lomba fashion show casual mix motif Sepe yang melibatkan anak usia SD sampai SMP di Kota Kupang,” terangnya.

Selain itu, ada lomba mewarnai yang melibatkan anak PAUD dan TK di Kota Kupang, serta community activity, di Kota Kupang, Expo UMKM yang berkesinambungan dengan kegiatan Saboak, perform tari Sepe dan live music.

“Tujuan dilaksanakannya Festival Sepe adalah untuk mempromosikan Sepe sebagai icon Kota Kupang, dan menjadikan Kota Kupang sebagai daerah tujuan wisata,” ujar Salean.

Ia juga menyampaikan bahwa, pihaknya akan menjadikan kegiatan Festival Sepe sebagai even tetap, yang akan digelar setiap tahun.

“Peserta dalam Festival Sepe ini adalah anak-anak PAUD hingga mahasiswa, para pelaku ekonomi kreatif, komunitas Kota Kupang, pelaku seni dan budaya di Kota Kupang,” tandasnya.

Pelaksanaan Festival Sepe 2025 juga berdampak positif untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Yetty, pemilik UMKM E-Mart Shop mengaku tenun Sepe memberikan keuntungan bagi dirinya dan pelaku UMKM lainnya. 

Yetty, pelaku UMKM E-Mart Shop yang menjual tenun motif Sepe sedang melayani pembeli di arena Festival Sepe 2025. (Foto: RKK/Koranntt.com)

Ia berujar, proses menenun Sepe bisa memakan waktu hingga 2 minggu, dengan menggunakan pewarnaan bahan alami. 

“Kalau pakai bahan biasa atau beli di toko, satu hari, kita bisa menghasilkan 3 sampai 4 selendang,” kata Yetty yang hadir dalam Festival Sepe 2025.

Yetty menambahkan, arahan Wali Kota Kupang, dr. Chris Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Francies yang mewajibkan ASN menggunakan tenun Sepe, ternyata berdampak positif bagi pelaku UMKM yang selama ini menjual motif Sepe. 

“Tenun Sepe menguntungkan apalagi saat ini Pak Wali Kota dan Ibu Wakil mewajibkan ASN untuk menggunakan tenun,” terangnya. (RKK/ADV)