Bagi Ny. Vivi Lay, kolaborasi ini bukan semata soal angka. Ia adalah upaya menjaga martabat budaya, menghidupkan kembali semangat para ibu yang tak pernah lelah menenun, meski di tengah keterbatasan.
“Tenun Belu bukan sekadar kain. Ia adalah jati diri. Dan setiap kali Bank NTT hadir bersama kami, itu seperti mengatakan bahwa budaya ini layak dihargai, dilestarikan, dan dijual dengan bangga,” ucap Vivi.
Perempuan-perempuan penenun itu bukan hanya pengrajin. Mereka adalah penjaga nilai, pemilik cerita, dan sumber ketahanan ekonomi lokal. Dari beranda rumah di desa-desa perbatasan, mereka menenun bukan hanya kain, tetapi juga harapan bagi anak-anak mereka.
Dari Perbatasan, Untuk Dunia
Tenun Belu kini sedang dalam perjalanan panjang meninggalkan batas-batas geografis dan menyeberang ke panggung yang lebih besar. Dukungan dari institusi seperti Bank NTT adalah bahan bakar penting dalam perjalanan itu.
Dan di setiap simpul motif yang rumit, ada keyakinan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga keuangan akan menghasilkan kain kehidupan yang lebih kuat, lebih indah.



Tinggalkan Balasan