“G20 tidak boleh menjadi forum elitis yang hanya menguntungkan negara-negara maju dan korporasi besar. Kami mendorong agar serikat pekerja tidak hanya jadi pendengar simbolik, tapi menjadi mitra sejajar dalam menyusun arah kebijakan global. Negara-negara berkembang, termasuk pekerjanya, punya hak atas pemulihan ekonomi yang adil. Negara berkembang seperti Indonesia tidak bisa terus dibebani oleh skema yang berat sebelah,” kata William, Senin (28/7/2025).

Isu yang menjadi perhatian utama di hari pertama L20 Summit yaitu ketimpangan pemulihan pascapandemi, krisis geopolitik yang mengancam stabilitas global, serta perlunya transisi hijau yang adil.L20 juga menyoroti dampak perdagangan bebas terhadap eksploitasi pekerja dan kerusakan lingkungan.

Dalam diskusi bertema “Kebijakan Industri Hijau dan Transisi yang Adil”, delegasi Indonesia juga menyuarakan pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja sektor terdampak seperti tambang dan energi fosil. William yang merupakan mahasiswa program doktoral (S3) di IPDN itu menyampaikan, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam melindungi pekerja informal dan rentan, terutama dalam konteks ekonomi digital dan perubahan iklim.