Di tiga desa: Ledeke, Eilogo, dan Hallapaji, warga telah menanti sejak pagi. Beberapa anak berlari-lari di antara tumpukan karung beras, sementara para ibu dengan kain ikat khas Sabu memandang penuh harap.
Hari itu, 63 bingkisan dibagikan kepada keluarga terpilih, jumlah yang bukan kebetulan, melainkan sesuai dengan usia Bank NTT. Bingkisan63 diserahkan langsung oleh Bupati Sabu Raijua Krisman B Riwu Kore, SE, MM.
Bingkisan itu sederhana tapi bermakna: 5 kilogram beras, dua liter minyak goreng, satu papan telur, satu renteng susu Dancow, dan dua kilogram gula pasir.
“Kami tahu ini tidak besar, tapi semoga bisa membantu meringankan kebutuhan harian dan memberi semangat bahwa kita tidak sendiri,” ujar Mathias.
Di hadapan warga, para petugas bank tak hanya membagikan paket bantuan, tetapi juga menyampaikan pesan yang lebih besar bahwa lembaga keuangan tak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaannya. “Kami tidak sekadar mengelola dana, kami hadir untuk masyarakat,” kata Mathias.
Perayaan ulang tahun Bank NTT ke-63 ini memang bukan pesta megah di ballroom hotel. Tidak ada balon, tidak ada musik keras. Tapi ada keheningan yang hangat di ruang donor darah, dan ada senyum tulus di halaman desa terpencil di Liae.



Tinggalkan Balasan